Laporan dari WSIS-Tunisia
Kreativitas, Budaya, dan Peningkatan Kemampuan
- detikInet
Tunisia -
WSIS.Pengantar redaksi:Onno W. Purbo Ph.D, pakar teknologi informasi (TI) Indonesia, mendapat undangan menjadi salah satu pembicara pada ajang internasional World Summit of the Information Society (WSIS) di Tunisia, 16 hingga 18 November 2005. Onno, meskipun membuat harum nama Indonesia ke tingkat dunia, keberangkatannya ternyata tak disponsori oleh pemerintah Indonesia. Kiprah Onno di WSIS merupakan sebuah bentuk pengakuan dari International Development Research Center (IDRC), sebuah lembaga non-pemerintah asal Kanada, atas kiprah Onno selama ini. IDRC-lah yang kemudian menanggung seluruh biaya perjalanan Onno ke WSIS - Tunisia.Melalui detikinet, Onno menceritakan kisah perjalanannya di WSIS. Tulisan berikut ini adalah laporannya, langsung dari Tunisia.Kreativitas, Budaya, dan Peningkatan KemampuanPagi 18 November saya berpartisipasi dalam sebuah session tentang masalah kreativitas, budaya dan kapasitas dengan judul "Creative, Culture, Capacity .. From Geneva to Tunis, and the Transition to the Information Society". Sesi ini diorganisir oleh rekan saya Colin MacLay dari Berknman Center di Harvard University di Boston Amerika Serikat. Berkman Center adalah tempat lahirnya banyak pemikir cyberlaw di dunia. Salah satu yang paling terkenal adalah Lawrance (Larry) Lessig yang sekarang bekerja di Stanford University.Topik yang dibahas memang sama sekali bukan masalah IT, bukan masalah Internet atau komputer. Tapi tentang kreativitas, budaya dan kemampuan. Pembicara termasuk President Paul Kagame dan Leonel Fernandez Alan Key, Clotilde Fonseca, Robin Mansell, Venancio Massingue, dan Hamadoun Toure.Ada banyak pendapat yang menarik yang saya peroleh dari sesi ini. Alan Key barangkali yang mempunyai pendapat atau cara berpikir paling menarik dari sekian banyak pembicara. Karena cukup ketatnya waktu dan cara interaksi yang dilakukan saya tidak bisa secara satu per satu mengutip para pembicara. Berikut adalah beberapa pendapat dan kesimpulan umum yang saya peroleh dari sesi ini. Mudah-mudahan dapat bermanfaat untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kreatif dan maju.Kreativitas memungkinkan perubahan paradigma dan cara bekerja atau cara memecahkan masalah dari pendekatan yang top-down menjadi bottom-up.Internet Adalah Buah Iklim KreatifSalah satu hal yang menyebabkan internet dapat berkembang terutama karena budaya dan lingkungan di Amerika Serikat yang memungkinkan orang bekerja di luar paradigma yang ada dan di luar pola pikir konvensional alias normal dan standar yang ada.Sebetulnya pada saat Internet berkembang telah ada 'agama' di ilmu komputer yang sifatnya mapan. Tapi keberadaan 'agama' dapat didobrak oleh lingkungan yang memungkinkan orang untuk berpikir tidak linear dan dekonstruktif.Yang perlu dibangun adalah ekosistem kreatif. Ekosistem kreatif ini umumnya berada di Universitas. Dalam sebuah ekosistem yang kreatif ini kita harus mau mempunyai toleransi yang tinggi, mau menerima ide baru dan yang tidak kalah penting adalah kemauan untuk berubah.Barangkali yang relevan bagi kita di Indonesia, di negara berkembang, adalah perlunya dorongan untuk konten-konten barudalam bahasa Indonesia. Selain itu juga kemauan untuk berbagi pengetahuan dari grass root.Sistem pendidikan, terutama di negara berkembang, kadang-kadang justru mematikan kreativitas. Pendidikan di negara berkembang umumnya sangat berpusat pada guru. Hal itu harus diubah agar lebih berpusat pada murid dan memungkinkan murid untuk mengetahui apa yang dia suka, apa yang dia inginkan dan tidak didikte oleh guru yang akhirnya akan mematikan kreativitasnya.Jangan Jadi DiktatorDalam membangun kreativitas sebuah bangsa, anak muda adalah komponen yang paling paling penting. Mereka yang lebih mudah berubah dan lebih berani mengambil resiko akan hal-hal yang baru.Kalau boleh saya merefleksikan semua ini bagi Indonesia. Saya melihat kuncinya berada di sistem pendidikan di Indonesia, di guru, di DIKNAS (Departemen Pendidikan Nasional-red).Contoh sederhana, waktu saya menjadi dosen ITB kebanyakan mahasiswa tingkat akhir selalu memberikan pertanyaan standar kepada saya: "Pak, apakah punya topik tugas akhir?". Saya menjawab, "Kerjakan apa yang anda suka". Mahasiswa menjawab, "Saya tidak tahu saya suka apa, saya mengerjakan aja apa yang Bapak suka".Pertanyaan sederhana ini dilontarkan oleh mahasiswa ITB tingkat akhir yang akan menjadi sarjana. Mengerikan jika kita memikirkannya. Tapi ini merupakan refleksi dari akumulasi pendidikan yang sangat berpusat pada guru. Guru mendikte siswa untuk mengerjakan hal yang ditentukan oleh guru tanpa diberi kesempatan siswa untuk bermain, mencari tahu keindahan dunia. Akibatnya, tanpa perintah guru mereka tidak bisa bekerja.Semoga laporan singkat ini dapat menjadi masukan bagi dunia pendidikan di Indonesia agar tidak menjadi diktator yang baik untuk siswanya. Memungkinkan para siswa untuk belajar sambil bermain. Jika demikian, bukan mustahil kita akan melihat bangsa Indonesia yang kreatif di kemudian hari.
(wsh/)