Laporan dari WSIS - Tunisia
Internet Indonesia Mirip Afrika?
- detikInet
Tunisia -
WSIS.Pengantar redaksi:Onno W. Purbo Ph.D, pakar teknologi informasi (TI) Indonesia, mendapat undangan menjadi salah satu pembicara pada ajang internasional World Summit of the Information Society (WSIS) di Tunisia, 16 hingga 18 November 2005. Onno, meskipun membuat harum nama Indonesia ke tingkat dunia, keberangkatannya ternyata tak disponsori oleh pemerintah Indonesia. Kiprah Onno di WSIS merupakan sebuah bentuk pengakuan dari International Development Research Center (IDRC), sebuah lembaga non-pemerintah asal Kanada, atas kiprah Onno selama ini. IDRC-lah yang kemudian menanggung seluruh biaya perjalanan Onno ke WSIS - Tunisia.Melalui detikinet, Onno menceritakan kisah perjalanannya di WSIS. Tulisan berikut ini adalah laporannya, langsung dari Tunisia.Pan African Research and Education NetworkDi hari pertama saya di Tunis 14 November 2005, saya meluangkan waktu saya untuk menghadiri konferensi Pan African Research and Education Network (PAREN) yang diselenggarakan oleh IDRC (International Development Research Centre) bekerjasama dengan banyak organisasi pendidikan di Afrika.Pada kesempatan tersebut saya banyak bertemu rekan-rekan lama saya di dunia Teknologi Informasi (TI) internasional seperti Richard Fuchs (IDRC Canada), Steve Song (IDRC Canada), Manjit (CERN Swiss), Heloise (IDRC South Africa), Edith (IDRC Nairobi), Pak Tengku Azzman MIMOS (Malaysia) dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebut satu persatu.Cukup banyak pembicara, sekitar 17-18 pembicara yang tampil di PAREN dari berbagai negara di Afrika, seperti Rwanda, Nigeria, Malawi, Kenya, bahkan ada sebagian aktivis yang mencakup ke negara Arab, Jordania, Lebanon dan lain-lain.Mendengarkan apa yang mereka sampaikan sebetulnya cukup menyedihkan. Rakyat afrika terutama afrika tengah umumnya lebih dari 45 persen berada di bawah garis kemiskinan.Negara-negara afrika miskin ini umumnya bergantung hidupnya pada cocok tanam. Memang agak berbeda kondisinya jika kita melihat negara afrika utara apalagi negara arab yang umumnya kaya, seperti Tunisia, oleh adanya minyak.Akses Mahal, Negara MiskinKemiskinan negara afrika menyebabkan posisi tawar perguruan tinggi untuk memperoleh akses Internet menjadi sangat lemah. Apalagi jika mereka melakukannya satu per satu tidak secara kolektif. Biaya akses Internet sangat mahal dan mereka umumnya di-charge per Kilobyte (Kbyte). Rata-rata mereka harus membayar sekitar US$5 per Kbyte, beberapa negara harus menangis karena mereka harus membayar US$10-15 per Kbyte. Bayangkan, Rp. 150.000 per Kbyte! Betapa sedihnya kondisi negara afrika yang sangat miskin.Beban bertambah besar lagi dengan tingginya biaya untuk memperoleh lisensi VSAT (Very Small Aperture Terminal) dari regulator. Sialnya VSAT umumnya merupakan metoda paling ampuh untuk memperoleh akses Internet.Secara umum masalah utama yang dihadapi oleh banyak negara afrika ini adalah kurangnya atau mahalnya akses infrastruktur, kurangnya sumber daya manusia, kurang dana (funding), serta kurang atau tidak adanya perencanaan. Di antara empat kekurangan tersebut, mereka mengklaim biaya bandwidth merupakan momok utama.Mereka mengajukan beberapa usulan untuk mengatasi masalah mereka. Mulai dari pembangunan jaringan komputer yang murah, menggunakan teknologi wireless, dan yang tampaknya sangat penting bagi mereka adalah management bandwidth.Beberapa di antara mereka juga mengusulkan untuk memfokuskan diri pada organisasi di antara universitas di Afrika, mulai dari usulan membuat ICT committee, planning committee, membuat para professor untuk membuat e-learning dan lain-lain.Indonesia Mirip Afrika?Terus terang, insting saya mengatakan bahwa pola berpikir para pemimpin universitas di Afrika ini mirip dengan kondisi di Indonesia. Mereka berpikir lebih pada supply side untuk mencari alat atau infrastruktur yang canggih. Tapi di sisi lain mereka tidak terlalu melihat celah-celah yang mungkin dikembangkan menggunakan teknologi yang sederhana dengan berbagai keterbatasan yang ada. Dengan kata lain, melihat dari sisi demand dan berusaha membangun demand tersebut.Saya teringat masa-masa perjuangan 12 tahun-an yang lalu di ITB pada saat awal kita membangun jaringan Internet di Indonesia dengan kreatif mulai mengadopsi teknologi packet radio dan mengajarkan teman-teman lain untuk dapat mengoperasikan teknologi Internet secara murah. Hal ini di kemudian hari menjadi dasar dan tumpuan Indonesia untuk melakukan leap frog dengan 2.4GHz-nya yang kemudian banyak diadopsi oleh banyak negara. Hal ini sangat terasa, dengan banyaknya rekan-rekan yang menyalami saya pada saat saya masuk ke ruangan seminar.Insya Allah, kita akan terus berada di depan dan menjadi pemimpin di negara berkembang jika kita berpikir secara demand side, bukan supply side.
(wsh/)