Kamis, 19 Jul 2018 11:40 WIB

Soal Monopoli, Microsoft Pernah Tersandung Seperti Google

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Ilustrasi. Foto: Internet Ilustrasi. Foto: Internet
Jakarta - Komisi Eropa baru menjatuhkan hukuman denda 4,34 miliar euro atau sekitar Rp 72 triliun ke Google karena masalah monopoli. Microsoft pun pernah tersandung kasus serupa.

Di kasus Google, pangkal masalahnya ada di aturan lisensi Android yang mensyaratkan pembuat perangkat melakukan pre instal aplikasi Google seperti Chrome, YouTube, Gmail, Google Maps dan Play Store. Aturan ini melanggar hukum anti trust dan membuat produk kompetitor tak bisa bersaing dengan adil.


Jika anda ingat, Microsoft pun pernah tersandung masalah yang sama, tepatnya 20 tahun yang lalu. Pada 1998, pemerintah AS mempermasalahkan Microsoft karena mereka membundling Internet Explorer di Windows. Kasus tersebut sampai membuat Bill Gates harus dipanggil untuk dimintai keterangannya.

Sebagai informasi, pada masa itu Microsoft adalah pemain yang sangat besar, bisa dibilang tak punya lawan untuk sistem operasi PC. Pasalnya Windows dijual bersama 95% PC yang kompatibel dengan Intel.

Dominasi tersebut memberi keuntungan besar bagi Microsoft, terutama karena pasar pengguna web saat itu tengah berkembang. Alhasil Internet Explorer -- browser bawaan Windows -- bisa dibilang sukses menggiring para pengguna baru PC untuk menggunakan browser tersebut ketimbang pesaingnya seperti Netscape.

Soal Monopoli, Microsoft Pernah Bernasib Sama Seperti GoogleFoto: GettyImages

Pasalnya pada era itu, kecepatan internet sangat terbatas. Sehingga sulit bagi pengguna untuk mengunduh browser lain seperti Netscape atau Opera ke PC-nya. Pengguna akan lebih mudah untuk langsung menggunakan Internet Explorer karena sudah termasuk ketika menginstalasi Windows.

Kemiripan kedua kasus ini juga terlihat dari cara Google untuk membela diri. Mereka baru-baru ini mempublikasikan video yang berisi tutorial untuk menguninstal aplikasi-aplikasi yang membuat mereka tersandung kasus monopoli ini. Cara ini pernah digunakan Microsoft dalam sidangnya, yaitu menunjukkan video untuk menonaktifkan Internet Explorer di Windows.

Namun ada sebuah perbedaan besar antara kasus Google dan Microsoft, yaitu soal dominasinya di pasar. Saat Microsoft dipermasalahkan, Internet Explorer benar-benar baru memulai 'hidupnya', sementara pada 2018 ini, Chrome dan Google sudah menjadi raksasa di pasar.

Chrome saat ini mempunyai market share 60%, dan 90% pencarian di internet menggunakan mesin pencari Google. Dan kebanyakan dari basis pengguna Google itu tak ada kaitannya dengan bundling aplikasi tersebut di Android.

Kelanjutan kasus Google saat ini belum bisa ditebak. Mungkin saja mereka akan mengikuti langkah Microsoft, yang terus melawan Departemen Hukum AS selama bertahun-tahun, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Kamis (19/7/2018). (asj/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed