Senin, 18 Jun 2018 19:59 WIB

Huawei Bantah Ancam Keamanan Australia

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: Amanda Rachmadita Foto: Amanda Rachmadita
Jakarta - Huawei merilis surat terbuka yang isinya membantah tudingan pemerintah Australia yang menilai jaringan telekomunikasi mereka berbahaya bagi keamanan nasional negeri Kangguru tersebut.

Surat terbuka ini dirilis saat Australia sedang bersiap-siap untuk mengumumkan tender pengadaan 5G. Huawei juga sedang disorot karena saran dari agensi intelijen Australia untuk tidak mengikutkan Huawei dalam lelang tender ini.

"Komentar publik baru-baru ini mengenai China menyertakan referensi tentang Huawei dan perannya di Australia dan mendorong observasi atas kekhawatiran keamanan," tulis Chairman Huawei John Lord dan anggota direksi Huawei John Brumby dan Lance Hockridge dalam surat terbukanya, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Senin (18/6/2018).



"Sebagian besar dari komentar ini tidak sesuai dengan informasi dan tidak berdasarkan fakta," lanjut isi surat tersebut.

Sama seperti dengan Amerika Serikat, Australia juga khawatir akan keterlibatan pemerintah China dalam mengontrol Huawei. Hal inilah yang membuat Australia enggan untuk memberi akses atas infrastruktur yang bersifat sensitif kepada Huawei.

Huawei juga kembali menegaskan bahwa mereka tidak dikontrol oleh pemerintah China dan mereka merupakan perusahaan yang independen.

"Di setiap 170 negara tempat kami beroperasi, kita menuruti hukum dan pedoman nasional. Untuk melakukan hal yang sebaliknya akan mematikan bisnis kita dalam semalam," tulis eksekutif Huawei tersebut dalam suratnya.



Rekam jejak Huawei dengan pemerintah Australia memang cukup suram. Pada tahun 2012, Huawei dilarang oleh pemerintah Australia untuk menyuplai National Broadband Network.

Pada Mei 2018, pemerintah Australia menghabiskan jutaan dollar untuk memastikan agar Huawei tidak membangun jaringan kabel internet antara Australia dan Kepulauan Solomon.

Keberatan Australia untuk melibatkan Huawei dalam proyek-proyek tersebut dikabarkan karena Australia khawatir China akan mengancam keamanan nasionalnya dengan memiliki akses kepada infrastruktur telekomunikasi vital miliknya. (rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed