Jumat, 26 Jan 2018 15:36 WIB

PM Inggris: Uber Salah, Tapi Jangan Ditutup

Fino Yurio Kristo - detikInet
Theresa May. Foto: Reuters Theresa May. Foto: Reuters
Jakarta - Perdana Menteri Inggris Theresa May menyinggung soal layanan transportasi online, khususnya Uber. Ia menyebut perusahaan seperti Uber tidak seharusnya ditutup, namun mereka harus berupaya lebih untuk mematuhi peraturan.

Dalam ajang World Economic Forum di Davos, Theresa menandaskan pemerintah harus sigap mengikuti perkembangan teknologi. Terutama dalam soal perlakuan pada tenaga kerja.

"Kita harus memastikan peraturan hukum ketenagakerjaan kita tetap seiring dengan bagaimana teknologi membentuk praktik pekerjaan modern," sebut Theresa yang dikutip detikINET dari Reuters, Jumat (26/1/2018).

Theresa pun mengkritik Uber, terutama soal perlindungan terhadap tenaga kerja. "Ambil contoh Uber, sebuah perusahaan yang melakukan beberapa hal salah, dengan isu soal safety serta perlindungan pada pekerjanya," kata Theresa.

"Jawabannya adalah tidak dengan mematikan Uber tapi untuk mengatasi isu tersebut dan menegakkan standar serta perlindungan yang membuat teknologi ini bekerja baik untuk konsumen maupun karyawan," papar dia.

Uber memang sedang mengalami masalah pelik di Inggris. Lisensi mereka baru-baru ini dicabut di London walau masih dapat beroperasi karena sedang mengajukan banding.

Alasan pencabutan lisensi Uber menurut pihak Transport of London adalah karena Uber dianggap tidak melakukan bisnisnya dengan baik. Antara lain karena mereka tidak melaporkan pelanggaran yang dilakukan pengemudinya serta bagaimana menyaring mereka.

Uber pun berjanji akan memperbaiki praktik bisnisnya dan berjuang untuk mendapatkan lagi lisensinya. Antara lain dengan memperbaiki soal keamanan dan lebih mensejahterakan pengemudinya. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed