Selasa, 23 Jan 2018 19:54 WIB

Terkuak, Motif Driver Grab Antar 'Tuyul'

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Praktik penggunaan Fake GPS dan orderan fiktif sangat meresahkan Grab. Pasalnya, tidak hanya kerugian finansial dirasakan, pengalaman mitra dan penumpang pun menjadi korban.

Kepada detikINET, Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan tindakan para driver yang curang menggunakan aplikasi Fake GPS merugikan usaha jujur dan kerja keras sebagian besar mitra pengemudi dan para pelanggannya.

Lantaran makin banyak mitra dan pelanggan yang melaporkannya, Grab pun bergerak melakukan tindakan.

"Setelah terdeteksi pada sistem Grab, kemudian ditindaklanjuti dengan penelusuran dan pengamatan lapangan oleh tim satgas Grab dengan tim Cyber Crime Polda Sulsel. Akhirnya tujuh driver Grab di Makassar ditangkap polisi," kata Ridzki.

Dikatakannya, upaya ini tidak akan berhenti di Makassar saja. Mereka akan melakukan hal serupa di kota-kota lain di mana layanan Grab tersedia.

"Kenyamanan dan keamanan menjadi prioritas bagi kami," ujarnya.

Kejar Insentif

Ridzki tidak menampik jika praktik mengantar 'tuyul' lantaran mitra driver mengejar insentif yang diberikan Grab.

Istilah 'tuyul' sendiri digunakan untuk menyebut penumpang fiktif. Teknisnya, para driver yang curang menggunakan aplikasi Fake GPS. Jadi, seolah-olah di aplikasi ada penumpang yang diantar, padahal pengemudinya tidak bergerak kemana-mana.

Sejatinya, insentif diberikan pihak Grab sebagai bentuk penghargaan kepada mitra pengemudi. Penilaiannya dilakukan berdasar produktivitas masing-masing mitra pengemudi yang berhasil melampaui standar yang telah ditentukan.

"Kami tentunya terus berusaha memberikan manfaat dan pendapatan maksimal bagi mitra pengemudi melalui jalur yang jujur dan sesuai dengan kode etik yang berlaku. Tetapi sangat disayangkan bahwa hal ini disalahgunakan oleh segelintir orang melalui cara-cara yang tidak terpuji," jelasnya.

Grab mendapati beragam modus kecurangan yang dilakukan beberapa mitranya. Ada yang pembuatan order fiktif, penggunaan aplikasi Fake GPS untuk mencurangi sistem, dan menggunakan aplikasi tambahan untuk tidak mengambil pemesanan tanpa mengurangi performa penerimaan order dari mitra tersebut.

"Berbagai kecurangan tersebut dilakukan untuk memaksimalkan pendapatan mereka tanpa harus bekerja secara jujur dan berdasarkan kode etik Grab seperti sebagian besar mitra pengemudi yang lain," tutur Ridzki.

"Kami memberikan insentif kepada mitra yang memang berhak, bukan pada mereka yang melakukan kecurangan. Sangat tidak adil bagi mitra pengemudi yang sudah bekerja secara jujur dan bekerja keras," imbuhnya.

Selain insentif, akibat kecurangan ini, alokasi pengemudi di daerah yang menjadi incaran para 'tuyul' akan menjadi rendah untuk pengemudi yang tidak memanfaatkan 'tuyul'. Ujung-ujungnya, ini akan merugikan pelanggan.

"Jika pelanggan mendapatkan pengemudi yang menggunakan 'tuyul', mereka cenderung harus menunggu lebih lama untuk kedatangan pengemudi. Sebab jarak yang tertera di aplkasi bukan jarak yang sebenarnya. Alhasil harapan mendapat tumpangan yang cepat dan nyaman sirna," pungkas Ridzki. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed