Rabu, 25 Okt 2017 10:29 WIB

Kominfo Bantah Tak Transparan Soal Mesin Sensor Rp 211 Miliar

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi. Foto: Muhammad Ridho Ilustrasi. Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menjadi sasaran kritikan karena dinilai tidak transparan terkait pengadaan mesin sensor dengan nilai pagu sebesar Rp 211 miliar. Kominfo pun membantah tudingan tersebut.

Plt Kabiro Humas Kementerian Kominfo Noor Iza menjelaskan pembahasan pemblokiran konten negatif di internet telah dikemukakan sejak Agustus 2010. Ketika itu, pembahasan tersebut berlangsung dengan berbagai pihak, seperti dari pemerintah, Penyelenggara Jasa Internet (ISP), operator seluler, dan pihak terkait lainnya.

Awal mula pembahasan pemblokiran konten negatif di internet saat itu, kata Noor, karena ada tuntutan dari masyarakat agar pemerintah segera memerangi konten-konten negatif seperti pornografi di dunia maya.

"Transparan sudah dari awal diskusi," ucapnya Noor saat dihubungi detikINET, Selasa (24/10/2017).

Menurut Noor, pembahasan dengan berbagai pihak tidak ada masalah dan menghasilkan satu suara untuk menghadirkan sistem pemblokiran konten negatif di internet. Di satu sisi juga, pemblokiran jangan sampai mengganggu kualitas pelayanan operator kepada pelanggan.

"Ini merupakan effort dari pemerintah untuk lebih menghadirkan layanan di dalam kepastian konten internet yang sifatnya positif," sebutnya.

Soal mesin sensor internet yang diadakan oleh Kominfo sekarang yang menggunakan teknologi crawling, dijelaskan sebagai peningkatan sistem pemblokiran konten yang sebelumnya manual jadi lebih otomatis.

Noor mengungkapkan mesin sensor internet tersebut akan menjelajahi internet dan mengambil kriteria yang diinginkan, terdiri dari konten negatif seperti pornografi, hoax, radikalisme hingga terorisme.

"Dulu manual hingga skalanya kecil, sekarang otomatis jadi skalanya lebih besar yang tentu perlu sistem yang andal, kecepatan lebih tinggi. Transparan sudah dari awal, pemblokiran tidak ada masalah. Saat ini peningkatan pemblokiran dari manual ke otomatis," tutur Noor.

Kominfo juga melakukan pengadaan barang dan jasa mesin sensor internet dengan spesifikasi yang dibutuhkan yang dilakukan secara transparan serta ketersediaan di pasar. Dalam proses ini, Kominfo menggandeng konsultan untuk mendampingi kegiatan tersebut.

Seperti diketahui, Kementerian Kominfo mengumumkan pemenang proyek pengadaan mesin sensor internet dengan nilai pagu mencapai Rp 211 miliar. Pemenang tendernya adalah PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT Inti).

BUMN ini berhasil memenangkan proyek pengadaan Peralatan dan Mesin Pengadaan Sistem Monitoring dan Perangkat Pengendali Situs Internet Bermuatan Negatif atau mesin sensor internet.

Lelang mesin sensor internet ini digelar oleh Kominfo sejak 30 Agustus 2017 lalu. PT Inti berhasil mengalahkan 71 peserta yang mengikuti lelang. Menariknya, PT Inti merupakan satu-satunya peserta lelang mesin sensor yang lolos tahap kualifikasi, administrasi, hingga teknis.

Berdasarkan informasi yang tercantum di situs LPSE Kominfo, menyebutkan nilai pagu paket mesin sensor internet ini mencapai Rp 211.872.500.000, sementara untuk nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) tercatat sebesar Rp 211.870.060.792.

Sedangkan PT Inti menang lelang dengan memberikan harga penawaran Rp 198.611.683.606 dan harga terkoreksi Rp 194.059.863.536 dengan skor 70 dan skor akhir 94.

"Cara pembayaran lump sump, artinya barangnya tersedia dan bisa beroperasi dulu baru nanti kita bayar, tentu sesuai dengan apa yang diinginkan," ucap Noor. (fyk/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed