BERITA TERBARU
Minggu, 16 Jul 2017 18:08 WIB

Beda Sikap Pendiri Telegram ke Indonesia dan Rusia

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Pavel Durov. Foto: Instagram Pavel Durov. Foto: Instagram
Jakarta - Setidaknya sudah ada dua negara yang memprotes Telegram karena alasan terorisme, Indonesia dan Rusia. Namun pendiri Telegram bersikap berbeda terhadap kedua negara itu.

Ke Indonesia, Durov awalnya memang mengaku tak menerima permintaan pemerintah untuk menghapus konten terorisme, yang kemudian berujung pemblokiran Telegram di Indonesia. Namun akhirnya ia mengaku salah karena tak langsung menanggapi permintaan yang Kominfo kirimkan melalui email.

Pernyataan ini dikeluarkan Durov melalui channel resminya di Telegram. Ia mengakui bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika memang telah menghubungi mereka, namun lambat direspon oleh tim Telegram.

Pria asal Rusia itu pun menyesalkan, permintaan dari pemerintah Indonesia untuk menutup channel terorisme yang ada di Telegram tak cepat-cepat diproses. Ia juga mengklaim tak langsung mendapatkan laporan dari timnya begitu ada permintaan dari Kominfo.

Tanggapan ini sangat jauh berbeda dengan sikap Durov ke pemerintah Rusia. Durov memilih untuk langsung menolak permintaan mereka, meski diancam akan diblokir. Menurutnya permintaan pemerintah Negeri Beruang Merah itu akan melanggar konstitusi penggunanya.

Pemerintah Rusia meminta Telegram untuk memberikan kunci untuk membuka enkripsi yang mereka pakai untuk melindungi pesan-pesan yang dikirim. Permintaan ini mereka ajukan setelah terjadinya aksi teror bom bunuh diri di stasiun St Petersburg, dengan korban 15 orang, yang kabarnya direncanakan menggunakan Telegram.

"Telegram memberikan kesempatan bagi para teroris dengan cara menyediakan ruangan chat rahasia dengan enkripsi tingkat tinggi," tulis FSB, biro intelijen Rusia, saat itu.

Namun Durov berkeras bahwa permintaan itu melanggar konstitusi, dan jika pun Telegram kemudian diblokir, warga Rusia tetap akan menggunakan layanan pesan lain yang juga terenkripsi.

"Jika anda mau mengalahkan terorisme dengan pemblokiran, anda harus memblokir internet," ujar Durov kala itu, seperti dikutip detikINET dari Venture Beat, Minggu (16/7/2017). (asj/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Unik, Ada Go-Jek Bentor di Gorontalo

    Unik, Ada Go-Jek Bentor di Gorontalo

    Minggu, 27 Mei 2018 20:10 WIB
    Go-Jek kini telah resmi hadir di Gorontalo. Kehadiran layanan ini melalui kemitraan dengan para pengemudi becak motor atau yang sering disebut dengan bentor.
  • Ada Jutaan Anak Muda yang Diblokir WhatsApp

    Ada Jutaan Anak Muda yang Diblokir WhatsApp

    Minggu, 27 Mei 2018 19:03 WIB
    Jutaan pengguna WhatsApp tak bisa menggunakan layanan chat milik Facebook tersebut. Kebijakan pemblokiran ini diberlakukan bagi pengguna di bawah 16 tahun.
  • Leica Tutup Riwayat Kamera Ikonik M7

    Leica Tutup Riwayat Kamera Ikonik M7

    Minggu, 27 Mei 2018 17:07 WIB
    Seri M bisa dibilang adalah lini kamera jagoan buatan Leica. Umurnya pun terbilang panjang, seperti seri M7, yang pertama dirilis pada 2002 silam.
  • Palapa Ring Paket Tengah Hampir Rampung

    Palapa Ring Paket Tengah Hampir Rampung

    Minggu, 27 Mei 2018 16:16 WIB
    Menteri Kominfo Rudiantara menargetkan penggelaran kabel serat optik untuk Palapa Ring paket tengah akan selesai pada Agustus dan bisa beroperasi September.
  • Bitcoin Masih Jadi Favorit Para Kriminal

    Bitcoin Masih Jadi Favorit Para Kriminal

    Minggu, 27 Mei 2018 15:10 WIB
    Bagi yang berinvestasi Bitcoin harus waspada. Mata uang digital paling populer ini ternyata masih jadi primadona para pelaku kejahatan siber di seluruh dunia.
  • Bapak Android Belum Mau Menyerah

    Bapak Android Belum Mau Menyerah

    Minggu, 27 Mei 2018 14:06 WIB
    Essential kini ada di ujung tanduk. Sebab, pengembangan ponsel baru di bawah naungan bapak Android terancam dibatalkan, bahkan sampai perusahaannya mau dijual.
  • Akses 4G XL Tembus 376 Kota/Kabupaten

    Akses 4G XL Tembus 376 Kota/Kabupaten

    Minggu, 27 Mei 2018 13:02 WIB
    Selain memperluas akses jaringan 4G, operator seluler XL Axiata yang identik dengan warna biru itu juga melakukan perluasan jaringan 4,5G di 100 kota/kabupaten.