BERITA TERBARU
Minggu, 16 Jul 2017 13:05 WIB

Fitur yang Bikin Telegram Favorit Teroris dan Memusingkan Aparat

Fino Yurio Kristo - detikInet
Foto: Internet Foto: Internet
Jakarta - Pemerintah Indonesia melalui Kominfo memblokir layanan messaging Telegram, khususnya di versi web. Alasannya karena aplikasi itu digemari teroris untuk berkomunikasi dan menyebar propaganda.

Bukan hanya Indonesia, beberapa negara memang dibuat pusing Telegram. Rusia belum lama ini mengancam memblokir Telegram karena dituding menjadi sarana teroris merencanakan pengeboman di negaranya.

Saksikan video 20detik mengenai Meme Telegram Diblokir di sini:


Pemerintah Rusia ingin Telegram membuka data untuk menghindari pemblokiran. Tapi pendiri Telegram Pavel Durov menolak karena dianggap akan mengganggu privasi sekitar 6 juta warga Rusia yang menggunakan Telegram.

Selain teknologi enskripsi atau penyandian, ada beberapa fitur Telegram yang membuatnya digemari teroris ataupun kriminal. Menurut Jade Parker, peneliti senior TAPSTRI yang menganalisa teroris, user Telegram dapat berkomunikasi di channel, pesan privat atau secret chat.

Chanel di Telegram terbuka bagi siapa saja dan menurut dia, jadi media efektif menyebar propaganda. Sedangkan fitur secret chat hampir tak mungkin ditembus karena dilindungi dengan enskripsi canggih.

"Kombinasi fungsi berbeda itu yang membuat grup semacam ISIS memakai Telegram sebagai command and control center. Mereka kumpul dulu di Telegram, baru ke platform lain. Informasi dimulai di sana, baru menyebar ke Twitter, Facebook," sebutnya yang dikutip detikINET dari Vox.

Tapi yang biasanya jadi sorotan pemerintah adalah fitur secret chat. Di sini tiap user diberi kunci digital unik saat mengirim pesan. Untuk mengakses pesan itu, penerima harus punya kunci yang cocok dengan pengirim, jadi pesan dari seorang user hanya dapat dibaca pengirim yang dituju. Ini membuat hampir tak mungkin bagi polisi atau intelijen mengakses informasi tersebut.

Bahkan meski polisi dapat mengidentifikasi siapa berbicara dengan siapa, mereka tidak tahu isi pesannya. Faktanya karena enskripsi hanya terjadi antara dua user itu, Telegram sendiri tidak tahu apa isi pesannya.

Jade mengakui Telegram bukan satu-satunya layanan dengan enskripsi end to end, lainnya misalnya ada WhatsApp atau Viber. Tapi ada fungsi tambahan yang membuatnya lebih aman, yakni fitur timer yang bisa menghapus pesan secara otomatis.

"Sebelum user mengirim pesan di secret chat, mereka bisa memilih mengaktifkan self destruct timer, yang artinya beberapa waktu setelah pesan dibaca, secara otomatis dan permanen terhapus di kedua perangkat," jelas dia.

Faktor lain yang membuat aplikasi ini disukai adalah sangat mudah bergabung di Telegram. Mengaktifkan akun hanya memerlukan nomor selular dan untuk menggunakannya, tidak perlu memakai nomor yang sama.

"Kartu SIM yang kalian pakai untuk membuka akun Telegram dan yang untuk menggunakannya tidak harus sama. Jadi kalian bisa menjadi orang terpalsu di dunia," imbuh Jade.

Fitur semacam itu mungkin memang bukan eksklusif Telegram. Tapi ya itu tadi, aplikasi ini agaknya sudah kadung lebih digemari teroris.

Pavel Durov sendiri, sang pendiri Telegram, tetap menyayangkan jika aplikasinya disalahkan. Baru-baru ini dia mengatakan percuma Telegeram dicekal karena ada aplikasi pesan sejenis yang juga terenskripsi alias aman. Dan pihaknya sebenarnya sudah berusaha mengenyahkan teroris dari aplikasi itu.

"Jika Anda ingin mengalahkan teroris dengan memblokir sesuatu, maka Anda harus memblokir internet," katanya. (fyk/asj)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed