Jumat, 14 Jul 2017 19:19 WIB

Telegram, Layanan Messaging yang Bikin Aparat Pusing

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: GettyImages/Andreas Rentz Foto: GettyImages/Andreas Rentz
Jakarta - Meski sekilas cuma layanan pengiriman pesan, Telegram ternyata sukses bikin pusing aparat di beberapa negara, dan baru-baru ini masuk ke dalam daftar pemblokiran oleh Kominfo. Kenapa?

Telegram ini ternyata adalah layanan favorit para pelaku teror, termasuk ISIS, untuk menyebarkan propaganda.

Salah satu contoh penggunaan Telegram oleh teroris adalah serangan yang terjadi di Barking, Borough Markets dan London Bridge, Inggris. Di mana keduanya saling terkait dan terhubung dengan penggunaan aplikasi Telegram.

Saksikan video 20detik mengenai Telegram Diblokir di sini:


Sebelumnya, ISIS juga diketahui mengabarkan pihaknya berada di balik serangan di Paris dan bom pesawat Rusia di Mesir menggunakan Telegram. Ada sejumlah alasan yang membuat layanan buatan orang Rusia ini menjadi favorit para teroris.

Alasan yang terbesar adalah enkripsi tingkat tinggi yang diterapkan oleh Telegram di layanan pengiriman pesannya. Alhasil, pesan-pesan yang dikirim melalui Telegram akan sulit diendus oleh penegak hukum.

"Fitur Secret Chat di Telegram menggunakan enkripsi end to end, tidak meninggalkan jejak di server kami, mendukung pesan yang bisa self destructing dan tidak bisa diforward. Di atas semua itu, fitur secret chat bukan bagian dari cloud Telegram dan hanya bisa diakses dari perangkat asalnya," begitu klaim Telegram.

Meski kemudian fitur sejenis juga akhirnya tersedia di WhatsApp, tampaknya para teroris sudah terlanjur menggemari Telegram. (asj/rou)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed