Kamis, 08 Jun 2017 04:25 WIB

Menelusuri Jejak Penyebar Chat Mesum 'Baladacintarizieq'

Mei Amelia R - detikInet
Foto: Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah Foto: Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah
Jakarta - Penyebar chat mesum dalam situs 'baladacintarizieq' masih terus diselidiki pihak kepolisian. Bagaimana metode penelusurannya? Simak penuturan dari ahli forensik digital, Ruby Alamsyah.

Menurut Ruby, penelusuran postingan dokumen atau informasi elektronik yang ada di medsos atau website itu dapat dilakukan secara pasti, namun dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Sebab, pelaku bisa saja menutupi jati dirinya dengan menyembunyikan domain hingga IP address.

Namun polisi bisa melakukan penelusuran hingga ke sumber awal penyebar konten tersebut menggunakan metode tracing. Metode ini digunakan oleh Ruby saat diminta menjadi ahli dalam kasus pornografi yang melibatkan artis Luna Maya dan Ariel.

"Konsepnya hampir mirip, seperti Kapolda Metro bilang bahwa ini sebenarnya mirip dengan kasus Luna Maya dan Ariel, nah di kasus Luna Maya-Ariel yang kami lakukan adalah dengan menggunakan metode baru, kita bisa melacak semua yang meng-upload ke internet sampai data itu pertama kali didapat dari mana. Saya melakukan metode tracing (di kasus Luna-Ariel)," ucap Ruby.

Apakah metode ini bisa diterapkan dalam chat yang diduga melibatkan Habib Rizieq dan Firza Husein? "Nah, ini hal yang sama sebenarnya bisa saja diterapkan, tapi kan penyidik punya strategi banyak," lanjut Ruby yang jebolan Universitas Gunadarma tersebut.

Ruby mencontohkan, dalam kasus pornografi Luna-Ariel, file berkonten video porno tersebut di-export pada Juni 2010. "Dari mulai Juni yang ekspos di Facebook, Kaskus, dan Sawomatang, saya telusuri dari situ, mereka dapat dari mana," tuturnya.

Dari hasil penelusuran di media sosial dan situs tersebut, ia menemukan adanya sejumlah forwarding e-mail berisi konten pornografi Luna-Ariel. Penyebaran konten pornografi itu pun sudah berlapis-lapis.

"Forwarding-forwarding e-mail, ada sekitar 30-40 orang penerima. Tapi yang pertama kali pengirim pertama kita dapat. Dari situ kita telusuri ke komputernya, kita periksa dia dapat dari BBM grup teman-teman dia yang kita konfirmasi dari beberapa teman-teman dia, device teman-temannya kita forensik. Dari situ kita dapat lagi dari Bluetooth, kiriman dari Bluetooth ujungnya dapat dari kelompok mahasiswa di Bandung 9 orang," katanya.

Dari 9 mahasiswa tersebut, lanjut Ruby, ada yang mencuri dari flashdisk teman dan lainnya. "Ada yang men-download temannya dan berujung pada sepupunya, Rejoi, sound engineering Ariel, dan dari sepupunya Rejoi tersebut kita bisa menuju Rejoi yang copy file tersebut dari hardisk Ariel," ujarnya.

Kalaupun telah dihapus, menurut Ruby, sumber aslinya masih bisa dilacak selama data tersebut tidak di-rewrite (tertimpa). "Masih. Kita di dunia digital forensik itu ada level-level penanganan barbuk. Konsepnya, teorinya adalah sesuatu yang sudah dihapus itu bisa di-recovery, tetapi sesuatu yang telah tertimpa, atau overwrite itu tidak bisa di-recovered," ucapnya.

"Dua hal ini kita bisa ketahui hanya kalau kita lakukan digital forensik yang mendalam. Kalau hanya dihapus kemudian cara hapusnya standar, itu bisa sangat mudah untuk di-recovery," katanya. (rou/rou)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed