Kamis, 25 Okt 2012 02:20 WIB

Telkom Yakin Putusan Pailit Telkomsel Bisa Batal

- detikInet
Arief Yahya (rou/inet) Arief Yahya (rou/inet)
Jakarta - Telkom optimistis anak usahanya Telkomsel akan terlepas dari kasus pailit yang menimpanya. Sebab, ada sejumlah alasan kuat yang bisa membatalkan putusan pailit tersebut.

"Pertama, Telkomsel tidak mempunyai hutang kepada penggugat pailit. Dan kedua, syarat gugatan pailit minimal dua kreditur tidak terpenuhi," tegas Direktur Utama Telkom, Arief Yahya, dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Rabu (24/10/2012).

Dalam hearing yang berlangsung hingga larut malam jelang dinihari di gedung DPR, Arief yang ditemani seluruh jajaran petinggi Telkom dan Telkomsel memaparkan kronologi versi anak usahanya.

Seperti diketahui, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 14 September 2012 telah memutuskan bahwa Telkomsel dinyatakan pailit atas permohonan yang diajukan oleh PT Prima Jaya Informatika (PJI), distributor kartu dan voucher isi ulang Prima.

Telkomsel dan PJI sendiri mulai bekerja sama sejak 1 Juni 2011 sampai batas waktu Juni 2013 dengan komitmen awal Telkomsel menyediakan voucher isi ulang bertema khusus olahraga.

Namun kemitraan ini menimbulkan kasus setelah Telkomsel mengentikan penyediaan kartu perdana dan voucher isi ulang Prima pada Juni 2012 karena menilai PJI tidak memenuhi aturan yang dipersyaratkan.

PJI pun mengajukan permohonan pailit, karena menganggap sisa kontrak yang diputus senilai Rp 5,3 miliar sebagai utang Telkomsel. Klaim utang itu pun ditampik tegas oleh Arief.

Menurutnya, PJI belum membayar pemesanan sebelumnya, No.26 tertanggal 9 Mei 2012, saat mengajukan purchased order baru--yang kemudian dianggap sebagai utang karena tak dipenuhi.

"Sehingga menurut pasal 6.4 PKS 591, Telkomsel berhak menghentikan pasokan produk untuk pesanan selanjutnya. Ini berlaku untuk semua mitra dealer, termasuk PJI. Mereka sudah melakukan pemesanan 31 kali, jadi tak ada alasan kalau mereka mengaku tidak tahu prosedurnya dan kenapa kami tolak," papar Arief.

"Dalam hal ini PJI dipastikan tidak mempunyai piutang kepada Telkomsel, dan Telkomsel tidak mempunyai hutang kepada PJI. Dengan kata lain, PJI bukan kreditur Telkomsel, sehingga PJI tidak mempunyai hak untuk menuntut pailit Telkomsel," tegas orang nomor satu di BUMN telekomunikasi itu.

Kemudian, syarat minimal adanya dua kreditur juga tidak terpenuhi jika merujuk kepada butir B.3 UU Kepailitan. Sebab, menurut Arief, PJI bukan kreditur Telkomsel dan hutang Telkomsel terhadap PT Extend Media Indonesia--perusahaan lain yang ikut menggugat--telah dilunasi seluruhnya yang semestinya menggugurkan butir A.2.

"Maka seharusnya syarat gugatan pailit minimal dua kreditur tidak terpenuhi dan permohonan pailit PJI terhadap Telkomsel seharusnya ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga," tukas Arief.

Alasan lain yang juga tak dihiraukan oleh Pengadilan Niaga, kata dia, PJI yang telah gagal membangun 10 juta komunitas Prima dan gagal menjual 10 juta perdana kartu serta 120 juta voucher yang dijanjikan.

"Karena persentase pencapaian mereka sampai dengan Mei 2012, hanya 6,3% kartu dan 2,3% voucher. Mereka juga gagal membangun jaringan distribusi sendiri," sesal Arief.

Namun sayangnya, Dirut Telkom menyesali fakta-fakta yang ada itu telah diabaikan oleh Majelis Hakim. Pihaknya pun tinggal berharap bisa menang dalam putusan kasasi di Mahkamah Agung, awal Desember 2012 nanti.




(rou/ash)