Indra Sosrodjojo, Direktur Andal Software menjelaskan, sikap ini muncul setelah software bajakan lama-lama 'membantu' perusahaan yang dipimpinnya tersebut untuk masuk ke lahan bisnis baru.
"Dulu, awalnya kami bermain di mass market. Tapi gak kuat terus-terusan fight dengan produk bajakan. Kita capek sendiri," tuturnya, dalam jumpa pers di Restoran Harum Manis, Jakarta, Rabu (24/11/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, di pasar enterprise inilah, Indra mengaku jika Andal Software dapat lebih berkembang ketimbang di mass market. Alhasil, pada 2002, Andal memutuskan untuk mematikan bisnisnya di mass market.
"Jadi kita move. Makanya saya bersyukur juga pembajakan itu ada," tukas Indra.
Di pasar software enterprise, pria ramah ini menilai peluang untuk berkembang terbuka lebih lebar ketimbang mass market.
Beberapa alasannya adalah mulai dari relatif lebih aman dari pembajakan serta margin profit yang didapat bisa lebih besar.
Sekadar perbandingan, untuk harga software keluaran Andal di mass market dulu kira-kira dipatok di angka Rp 3 jutaan. Sementara itu, untuk produk enterprise kini harganya sudah mencapai puluhan juta, bahkan ada yang sampai Rp 300 jutaan.
Tingkat pembajakan software di Indonesia sendiri, pada tahun 2009 lalu memiliki presentase 86%. Menurut hasil riset dari IDC ini, hal tersebut menimbulkan kerugian pada industri software Tanah Air mencapai USD 866 juta secara nominal.
Presentase ini meningkat 1 persen ketimbang tahun 2008 yang tercatat 85 persen. Dengan demikian, Indonesia ditempatkan di posisi ke-8 dari 111 negara yang dianalisis dalam daftar negara-negara dengan tingkat pembajakan software tertinggi di dunia. (ash/eno)