Perseteruan ini muncul karena layanan Nokia, Ovi dinilai merugikan perusahaan asal Brasil yang memiliki brand bernama Ouvi. Ovi dan Ouvi memiliki lafal yang sama dalam bahasa Brasil.
Pihak pengadilan kemudian memutuskan Nokia tidak bersalah. Tidak terima dengan putusan pengadilan, Ouvi berniat mengajukan banding. Ouvi merasa dirugikan karena nama Ovi dinilai bisa mengecoh konsumen. Hal ini terjadi akibat pelafalan dua brand tersebut yang memang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
mengira mereka adalah Nokia.
Kekesalan mereka juga bertambah saat media-media Brasil menuliskan domain ovi.com.br di artikel mengenai Nokia. Padahal, domain tersebut sebenarnya adalah milik Ouvi yang telah didaftarkan juga di tahun 2004.
"Perusahaan kami akan mengajukan banding supaya Nokia dilarang merilis layanan Ovi-nya diΒ Brasil," tegas Tore Haughland, chief axecutive Ouvi yang juga menuduh Nokia menyerobot brandnya.
(sha/faw)