Biro Investigasi Federal atau Federal Bureau of Investigation (FBI) tengah menyelidiki platform jual-beli game kepunyaan Valve, Steam. Mereka menargetkan sejumlah game yang disinyalir mengandung malware.
Dari ratusan ribu game yang ada di Steam, FBI mencatat ada tujuh judul yang kini berada di bawah pengawasannya. Adapun tujuh game yang dimaksud adalah BlockBlasters, Chemia, Dashverse/DashFPS, Lampy, Lunara, PirateFi, dan Tokenova.
Menurut dokumen resmi terkait investigasi ini, menunjukkan ketujuh game tersebut kemungkinan dikelola oleh orang tau kelompok yang sama, dilansir Gamerant, Selasa (17/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FBI mengungkapkan, serangan malware ini terjadi dalam kurun waktu bulan Mei 2024 hingga Januari 2026. Sepanjang periode tersebut, salah satu dari tujuh game tadi, BlockBasters, dikritik karena mencuri uang dari seorang streamer Twitch kondang.
Hingga saat ini FBI pun masih melakukan penyelidikan. Mereka berharap para korban mau memberikan informasi lebih lanjut, mulai dari bagaimana para pemainnya bisa menemukan game tersebut hingga berapa uang yang telah dicuri.
Popularitas Steam memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Kehadirannya membantu mempromosikan dan mampu mendorong game dari pengembang kecil.
Namun hal ini telah mengundang sederet pelaku kejahatan untuk merusak platform tersebut. Sifat terbuka dari Steam Workshop menjadi sumber utama serangan berbahaya terhadap pemain.
Meski begitu, Valve memang secara teratur menghapus game yang berupaya menipu gamer. Sering kali penipuannya beriringan dengan rilis game yang sah, sembari mencoba mencuri informasi dari pemain. Hingga akhirnya sekarang, FBI mengambil tindakan sendiri dengan investigasi skala penuh terhadap ketujuh game tadi.
Meski begitu, investigasi FBI ini bukan satu-satunya kontroversi hukum besar yang pernah menimpa Steam. Hal ini mengingat, Valve juga menghadapi gugatan dari Negara Bagian New York.
Jaksa Agung Letitia James mengajukan gugatan terhadap Valve pada akhir Februari, dengan menyebutkan kotak jarahan (loot box) di Steam sebagai faktor pendorong di balik tindakan hukum tersebut. James mengklaim bahwa kotak jarahan dalam game seperti Dota 2 dan Team Fortress 2 merupakan perjudian ilegal yang dipasarkan kepada anak-anak, dan menuntut denda tiga kali lipat dari nilai pendapatan kotak jarahan Valve.
Selain itu, Valve juga telah menerima gugatan dari Negara Bagian Washington dan Performing Right Society yang berbasis di Inggris, masing-masing atas dasar kotak jarahan dan pelanggaran hak cipta.
(hps/fay)