Raksasa Video Game Diretas Hacker, File Rahasia Digondol

ADVERTISEMENT

Raksasa Video Game Diretas Hacker, File Rahasia Digondol

Panji Saputro - detikInet
Jumat, 15 Jul 2022 15:00 WIB
Bandai Namco Gelontorkan Dana Hingga Rp 1,8 Triliun Bikin Metaverse
Bandai Namco Diretas oleh Grup Ransomware, File Rahasia Diambil (Foto: Bandai Namco Entertainment)
Jakarta -

ALPHV atau juga dikenal BlackCat, sebuah kelompok peretas ransomware, berhasil masuk ke dalam sistem keamanan Bandai Namco. Mereka mengklaim telah memperoleh file rahasia.

Tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh kelompok tersebut, terdeteksi oleh Bandai Namco pada tanggal 3 Juli 2022. Raksasa game ini mengonfirmasi adanya akses tidak sah dari pihak ketiga ke sistem internal grup perusahaan mereka di kawasan Asia (tidak termasuk Jepang).

"Setelah kami mengkonfirmasi akses tidak sah, kami telah mengambil tindakan seperti memblokir akses ke server, untuk mencegah kerusakan menyebar," demikian menurut keterangan Bandai Namco, dilansir detikINET dari VGC, Jumat (15/7/2022).

Mereka mengatakan,bahwa kemungkinan terdapat informasi terkait Toys and Hobby Business di dalam server. Sehingga, saat ini Bandai Namco sedang mengidentifikasi status mengenai adanya kebocoran, cakupan kerusakan, dan menyelidiki penyebabnya.

"Kami akan terus menyelidiki penyebab insiden ini dan akan mengungkapkan hasil investigasi yang sesuai. Kami juga akan bekerja dengan organisasi eksternal, untuk memperkuat keamanan di seluruh Grup dan mengambil tindakan untuk mencegah terulangnya hal ini," ujar Bandai Namco.

Penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok peretas terhadap perusahaan game kondang, tidak hanya dialami oleh Bandai Namco. Hal ini mengingat, CD Projekt Red, pengembang Cyberpunk, juga pernah menjadi korban dari grup ransomware bernama HelloKitty.

Selain itu, ada pula pengembang game olahraga, Electronic Arts, mengalami hal serupa. Para pelaku berhasil mencuri kode FIFA 21 dan Frostbite milik perusahaan.

Nah, ransomware sendiri merupakan jenis perangkat lunak berbahaya yang digunakan oleh penjahat dunia maya, dalam upaya memeras uang korban. Pelaku kerap kali memblokir akses pemilik data, dengan mengenkripsi file.

Kemudian, juga mengancam akan merilis file tersebut secara publik. Hal ini tidak akan dilakukan peretas, bila korban memberikan uang tebusan.

Sementara itu, menurut survei yang dilakukan oleh Sophos bertajuk State of Ransomware 2022, sebanyak 66% perusahaan mengalami kenaikan serangan ransomware pada tahun 2021. Data yang dibagikan mereka, mengungkapkan rata-rata uang tebusan meningkat hingga USD 812.360 atau sekitar Rp 12,1 miliar.



Simak Video "5 Hacker Berbahaya di Dunia, Siapa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(hps/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT