Rabu, 08 Mei 2019 22:03 WIB

Laporan dari Shanghai

Thailand, Momok Tim PUBG Mobile Indonesia di Kompetisi Dunia

Danang Sugianto - detikInet
Suasana PUBG Mobile Club Open. Foto: Danang Sugianto/detikINET Suasana PUBG Mobile Club Open. Foto: Danang Sugianto/detikINET
Jakarta - Lima tim pro player PUBG Mobile dari Indonesia tengah bertarung dalam PUBG Mobile Club Open (PMCO) 2019. Saat ini mereka masih berjuang dalam tahap final regional untuk Asia Tenggara.

Terdapat sebanyak 24 tim yang berlaga di tahap ini. Mereka mewakili 6 negara yakni Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, Kamboja dan Indonesia.

Dari beberapa musuh tersebut, kebanyakan dari tim Indonesia mengkhawatirkan para tim dari Thailand. Tak heran, sebab mereka sudah sering berlaga di kancah internasional. Bahkan pada PMCO 2018 RRQ Athena yang berasal dari Thailand berhasil menjadi juara dunia.




"Untuk tim yang kami khawatirkan RRQ Athena dari Thailand. Mereka lawan yang kuat," kata Team Leader Bigetron Robby Mahardika Saputra di China, Rabu (8/5/2019).

Kapten Evos Esports juga memiliki pandangan yang sama. Namun dia menilai semua tim dari Thailand patut dikhawatirkan.

"Pokoknya semua yang dari Thailand. Mereka jago, cara mainnya. Mereka juga banyak prestasi," ujarnya.

Bagi tim Evos sendiri mereka telah mempelajari cara bermain tim Thailand melalui video. Dengan begitu mereka bisa membentuk strategi untuk mengalahkannya.

Leader Victim Esprots Ananda Putra Anugrah juga sama. Menurutnya tim Thailand bermain secara bar-bar, tapi itulah yang membuat mereka bertarung tanpa takut.

"Kalau main tim biasanya kan kita kalau berhasil knock 1 orang biasanya kita belum berani nge-push karena masih ada 3 orang lagi kan. Nah mereka enggak, dapat 1 knock langsung maju, enggak ragu. Ya mereka bar-bar gitu," terangnya.




Namun tim Victim sudah menyiapkan strategi untuk mengatasinya. Jika mereka berhadapan dengan tim Thailand dan 1 anggota kena knock, mereka tidak langsung melakukan revive atau menyembuhkan temannya. Mereka akan menunggu dan tetap bertarung.

"Jika sudah selesai, baru kita revive," tambahnya.

Namun strategi ini punya risiko, anggota yang kena knock tak bisa disembuhkan jika melewati batas waktunya. Tapi mereka anggap itu sebagai pengorbanan dengan chicken dinner. (fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed