Kamis, 21 Mar 2019 15:20 WIB

'Masalahnya Bukan di PUBG tapi Pemainnya'

Fino Yurio Kristo - detikInet
PUBG. Foto: dok. PUBG PUBG. Foto: dok. PUBG
New Delhi - Beberapa wilayah di India melarang PUBG dimainkan dengan alasan mengandung kekerasan dan bikin anak malas belajar. Bahkan, belasan remaja di wilayah di kota Rajkot, Gujarat, ditangkap polisi karena main PUBG walau lalu dilepas. Pro kontra pun jadi bermunculan.

Jhinuk Sen selaku kolumnis teknologi di PCMag menyebutkan bukan game-nya yang patut disalahkan ketika ada dampak negatif, melainkan orang yang memainkan game tersebut. Di India juga sering terjadi hobi selfie berujung kecelakaan atau hilang nyawa, tapi smartphone tak kemudian jadi dilarang.

"Ingat ketika ada argumen tentang kamera depan dan selfie menjadi masalah karena banyak kecelakaan di seluruh negeri? Seperti itulah pelarangan PUBG. Kamera depan tidak membunuh orang, tapi orang yang berpose di tempat berbahaya. Bukan kesalahan perangkatnya tapi kebodohan," tulisnya.




"Game-nya sendiri tidak membuatmu celaka atau menggagalkan ujian. Kamu sendiri yang membuat dirimu terdistraksi, tidak peduli prioritas. Kamulah masalahnya. Bukan game," tandasnya.

Ia menambahkan bahwa pelarangan PUBG justru membuat game ini makin populer. Pendapat senada dikemukakan oleh media Livemint. Menurut mereka, banyak game lebih sadis dari PUBG. Dan jika game ini memicu kekerasan, kadang pertandingan olahraga pun demikian.

Video: MUI Jabar Pertimbangkan Fatwa Haram Game PUBG

[Gambas:Video 20detik]



"Ini bukan game yang paling keras. Memang menimbulkan agresi, tapi demikian juga hampir semua hal yang kompetitif. Kita mungkin jadi melarang kriket juga atau mungkin semua jenis olahraga," tulis mereka.




Soal kecanduan, rokok pun bikin ketagihan dan tidak dilarang. Dan jika melihat sisi positifnya, pemain PUBG yang serius bisa berkompetisi dan mendapatkan uang.

"Remaja mendapatkan uang dari kontes karena mereka bagus main game ini. E sports telah menjadi profesional di seluruh dunia dan juga di India. Karena PUBG adalah permainan tim, maka bisa menciptakan gamer profesional, para penonton dan memperoleh pendapatan. Pendek kata, justru ini peluang," tambah mereka.




Tapi otoritas di India berpikiran lain. "Karena game itu, pendidikan anak dan remaja terpengaruh dan juga berdampak pada tingkah laku, kesopanan dan perkembangan mereka," demikian alasan pelarangan yang dikemukakan kepolisian Rajkot.

Rohan Khaunte, pejabat Kementerian Teknologi Informasi di wilayah Goa menyatakan PUBG layaknya iblis karena membuat anak-anak tidak konsentrasi belajar.

"PUBG telah menjadi setan di setiap rumah. Pelajar, ketimbang belajar, malah mereka terus bermain PUBG," kata dia.



(fyk/krs)