Jumat, 15 Mar 2019 11:35 WIB

Main PUBG, 10 Remaja di India Ditangkap Polisi

Fino Yurio Kristo - detikInet
Ilustrasi. Foto: istimewa Ilustrasi. Foto: istimewa
Jakarta - Kepolisian di negara bagian Gujarat di India menangkap 10 remaja karena kedapatan main game mobile PUBG. Permainan yang sedang digandrungi anak muda itu memang dilarang di sana.

Larangan anak dan remaja bermain PUBG diumumkan minggu lalu di kota Rajkot, Gujarat, karena dinilai mengandung aksi kekerasan dan bisa berpengaruh bagi anak muda. Para remaja yang ditangkap itu akhirnya dilepaskan dengan peringatan.

"Karena game itu, pendidikan anak dan remaja terpengaruh dan juga berdampak pada tingkah laku, kesopanan dan perkembangan mereka," demikian alasan pelarangan yang dikemukakan kepolisian Rajkot.




Kala itu, polisi mengemukakan bahwa ancaman bagi yang melanggar bisa sampai dipenjara. Dan benarlah hal itu dibuktikan dengan penangkapan 10 remaja tersebut.

"Kepolisian Rajkot melarang game PUBG dan Momo Challenge. Menurut mereka, game ini memicu kekerasan di kalangan anak muda dan mempengaruhi perkembangan mereka. Setiap orang bisa melapor ke kantor polisi terdekat jika melihat orang main game itu," tulis Kumar Manish, seorang jurnalis setempat.

Selain kota Rajkot, beberapa wilayah lain di India juga tengah mempertimbangkan untuk mencekal PUBG dengan alasan yang kurang lebih sama. Meski banyak diprotes, otoritas tampaknya tetap menganggap PUBG layak dicekal atau diwaspadai.

Rohan Khaunte, pejabat Kementerian Teknologi Informasi di wilayah Goa menyatakan PUBG layaknya iblis karena membuat anak-anak tidak konsentrasi belajar.



Simak juga video 'Kominfo: PUBG Hanya Boleh Dimainkan 18 Tahun ke Atas' di sini:

[Gambas:Video 20detik]


"PUBG telah menjadi setan di setiap rumah. Pelajar, ketimbang belajar, malah mereka terus bermain PUBG," kata dia.

PUBG sendiri mengaku akan mengambil berbagai langkah. "Untuk mendorong lingkungan game yang seimbang dan sehat, kami mengembangkan berbagai fitur baru yang memungkinkan pemain menikmati PUBG Mobile dengan bertanggungjawab," tandas mereka belum lama ini, meski belum menjelaskan apa fitur dimaksud.


(fyk/krs)