Jumat, 18 Mei 2018 15:11 WIB

Dota 2 'Dicuekin' Asian Games 2018, Ini Komentar Komunitasnya

Muhammad Alif Goenawan - detikInet
Dota 2. Foto: isitimewa Dota 2. Foto: isitimewa
Jakarta - Asian Electronic Sports Federation (AESF), bersama Olympic Council of Asia (OCA) dan Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC) resmi memilih enam game yang akan dipertandingkan di eksibisi Asian Games 2018 Jakarta-Palembang Agustus nanti.

Adapun enam game yang dipertandingkan adalah League of Legends (LoL), Pro Evolution Soccer (PES) 2018, Arena of Valor (AoV), StarCraft 2, Hearthstone, dan Clash Royale. Dari enam game yang dipertandingkan itu, cukup mengejutkan mengetahui Dota (Defense of the Ancients) 2 tidak masuk dalam hitungan.

Padahal sebagaimana diketahui, game besutan Valve ini memiliki banyak penggemar di Indonesia. Andrew Tobias, salah satu pengamat dan penggiat komunitas Dota 2 di Indonesia mengaku cukup kaget dan sedikit kecewa Dota 2 tak terpilih menjadi eksibisi di Asian Games 2018.


"Kecewa sedikit ada, tapi sedikit saja tidak banyak. Karena dilihat dari sisi penyelenggaraan Asian Games eksibisi game yang pertama kali diadakan di Indonesia," ujar Andrew berbincang saat dengan detikINET via WhatsApp, Jumat (18/5/2018).

Deretan game yang dipertandingkan di Asian Games 2018.Deretan game yang dipertandingkan di Asian Games 2018. Foto: istimewa


Menurutnya, bila dilihat dari sisi kuantitas, penggemar Dota 2 memang jauh lebih banyak dari LoL. "Itu untuk di Indonesianya saja, terlepas dari negara-negara lain," katanya.

"Kalau mau mengikuti penggemar dan penikmat e-sports di Indonesia pasti ya otomatis harusnya Dota 2. Tapi di sini juga mau gimana pun LoL punya kans yang cukup besar untuk menang. Meskipun penikmatnya sedikit," katanya lagi.

Kans yang dimaksud Andrew adalah, paling tidak ada tim LoL yang berprestasi cukup kuat di Indonesia, seperti Bigetron atau Head Hunters. Ia mengatakan, apapun daftar disiplin game yang sudah dibuat, ia pasti akan mendukung penuh penyelenggaraan eksibisi e-sports Asian Games 2018 di Indonesia.

Sementara itu, Tribekti Nasima yang juga penggiat komunitas Dota 2 di Indonesia, dalam kesempatan terpisah turut memberikan pandangan mengapa game Dota 2 tak terpilih. Ia yakin jika proses di belakang layar juga sudah melalui pertimbangan yang dalam.

"Sebaiknya dari komunitas coba ambil pandangan yang lebih menyeluruh, tidak spesifik ke satu pilihan game saja. Dari situ mungkin akan dapat pemahaman mengapa game A dipilih dibanding game B, dan sebagainya," jelasnya.


Menurutnya, membandingkan antar game memang tidak akan ada habisnya. Pasalnya, game punya banyak sekali faktor untuk penerimaan di pasar.

"Jadi, bukan berarti game sepi di satu pasar adalah game yang jelek. Dan bukan berarti game yang sukses di berbagai market merupakan game yang otomatis bisa masuk ke semua market juga," pungkasnya. (mag/mag)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed