Meski hanya sebuah permainan, namun tidak semua judul video game aman dimainkan untuk semua umur. Masih hangat beberapa waktu lalu sebuah postingan Instagram dari pesulap Deddy Corbuzier yang memberikan game Metal Gear Solid V: The Phantom Pain pada anaknya, Azka Corbuzier.
Apa yang dilakukan oleh Deddy kemudian menjadi bahan perbincangan di khalayak. Pasalnya, tak sedikit yang melontarkan kritik dan anggapan bahwa game besutan Hideo Kojima itu tidak pantas dimainkan oleh Azka yang berusia 9 tahun itu.
Sementara di sampul game, jelas tertulis bahwa game tersebut memiliki rating 18+. Dengan kata lain, pemberi rating, PEGI (Pan European Game Information) berharap agar game tersebut sebaiknya dimainkan oleh gamer dengan usia 18 tahun ke atas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukannya tinggal diam, Deddy yang paham dengan situasi tersebut akhirnya angkat bicara. Melalui postingannya ia menjelaskan bahwa Azka dirasa sudah cukup besar untuk menalar mana yang benar dan salah.
"Sekarang tergantung dari orangtua dalam mengajarkan anak. Mampukah Anda mendidik anak Anda untuk membedakan mana yang benar, mana yang fantasy, dan mana yang hanya sebuah film? Di sinilah anak Anda diuji kemampuan nalar berpikirnya," tulis Deddy.
Proses Rating Video Game
Lantas apakah sebenarnya rating dalam game ini? Ketika akan merilis game di beberapa negara, para publisher dan developer biasanya akan melewati tahap seleksi rating yang dilakukan oleh sejumlah lembaga rating di masing-masing negara atau kawasan.
Di Amerika Serikat misalnya. Lembaga rating di negara Paman Sam itu dikenal dengan nama Entertainment Software Rating Board (ESRB). Lain AS, lain pula Eropa yang memiliki PEGI tadi dan Jepang dengan Computer Entertainment Rating Organization (CERO).
Ketiga lembaga rating tadi punya ketentuan yang berbeda-beda dalam memberikan rating sebuah game. Bila PEGI lebih senang menggunakan angka sebagai penanda batasan usia, maka ESRB menggunakan kode berupa huruf, seperti E (Everyone) untuk semua umur dan Ao (Adult Only) untuk dewasa.
Rating ini dimaksudkan sebagai himbauan kepada para calon pembeli agar memperhatikan batas umur yang dimaksud sebelum memainkan game tersebut. Biasanya, ini juga bisa menjadi acuan para orangtua ketika membelikan game untuk anaknya.
Sebagai negara dengan jumlah gamer yang terbilang tidak sedikit, sayangnya hingga saat ini Indonesia belum memiliki lembaga serupa yang mengatur batasan usia untuk sebuah game. Padahal, menurut Andi Suryanto, Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI), pemberian rating setiap game yang beredar di Indonesia dirasa sangat penting.
"Rating ini sifatnya sebagai informasi dan himbauan kepada gamer ketika ingin membeli game. Apakah sesuai atau tidak. Jangan sampai nanti ketika memainkan baru tahu jika sebenarnya game tersebut tidak pantas dimainkan oleh gamer seusianya," ujar Andi ketika dihubungi detikINET via telepon, Selasa (6/9/2015).
Menurut Andi, saat ini permasalahan rating sebenarnya sudah dibicarakan dan tengah digodok oleh pemerintah dalam hal ini Kominfo. "Sudah didiskusikan dari akhir tahun lalu. Kominfo pun mendukung, tapi kalau ditanya kapan akan keluar keputusannya, belum tahu karena masih proses penggodokan," imbuh Andi.
Jika sudah final dan resmi, nantinya semua game yang masuk ke Indonesia atau game buatan developer lokal harus melewati tahap seleksi rating. Rating yang sifatnya tidak mengikat ini akan berlaku untuk semua jenis game, entah itu konsol, PC, atau mobile.
"Seperti yang dikatakan tadi, ini hanya bersifat himbauan. Bukan larangan untuk beredar jika misalnya game tersebut ternyata mengandung unsur kekerasan. Yang penting calon pembeli tahu konten yang ada di dalam game bagaimana," ujar Andi.
(fyk/fyk)