Salah satu penyebabnya yaitu karena adanya konotasi buruk terhadap game. Banyak orang yang beranggapan bahwa game cuma untuk fun alias senang-senang, bahkan tak sedikit yang lebih melihat dampak negatif dari bermain game.
Hal itu diungkapkan Direktur Kerjasama dan Fasilitas Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lolly Amalia Abdullah dalam acara Gamechanics, Talkshow & Seminar 'Arah Media Digital dan Game Indonesia' di aula barat Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha, Selasa (19/3/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebutkan sejumlah peristiwa perkelahian antar kampung atau tawuran mahasiwa sebagai contoh dampak buruk game.
"Perang antar kampung, tawuran mahasiswa. Saya miris, bukannya berantem otak tapi otot. Apa seperti ini generasi muda kita. Karena konotasi negatif dan dampaknya yang buruk sehingga para orangtua melarang anaknya main game. Bagaimana mau maju industri game kita?" katanya.
Lolly pun menyebut solusi strategis untuk industri game Indonesia adalah dengan mengembangkan Serious Game, yang merupakan jenis games yang memasukkan unsur edukasi dan pesan positif dalam game tanpa menghilangkan unsur fun.
Tema untuk Serious Game ini bisa tentang lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta kearifan lokal.
"Serious Game akan berimbas pada mental positif dan mendidik bagi generasi muda. Jadi memotivasi keingintahuan. Generasi muda adalah aset bangsa," ia menambahkan.
Untuk memajukan industri games dalam negeri, Lolly pun melihat perlunya dibangun ekosistem kreatif digital Indonesia. Dimana di dalamnya semua stakeholder mulai dari pemerintah, multi national company, venture capital, perusahaan telekomunikasi, toko aplikasi, media, partner teknologi, perguruan tinggi, user dan developper harus berkolaborasi.
Serious Game ini menjadi topik yang hangat diperbincangkan dalam talkshow yang menghadirkan juga Joddy Hernady, SGM Innovation & Design Center Telkom, Cahyana Ahmadjayadi mantan Dirjen Aplikasi Telematika yang kini menjadi Komisaris Bank Mandiri, Eko Nugroho selaku CEO Kummara, dan Ketua Program Studi Digital Media & Game Technology ITB Ary Setijadi Prihatmanto.
(tya/ash)