Pembahasan ini muncul saat Arief Widhiyasa, CEO Agate Studio, menceritakan awal mula perusahaan developer yang dipimpinnya memasarkan game. Dikatakannya, mereka justru lebih dulu merambah pasar global, baru kemudian lokal.
"Ekspektasi terhadap produk lokal, bahwa produk lokal gak bagus. Entah kenapa mayoritas mindset orang seperti itu," kata Arief.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara gak langsung kita seperti menawarkan produk makanan lokal misalnya. Nih coba dulu deh, ini dari luar lho. Begitu mereka bilang enak lho. Kita kasih tahu kalau ini ternyata produk lokal. Mereka harus disadarkan pelan-pelan," paparnya memberikan contoh.
Hal ini pula yang menjadi salah satu pertimbangan Arief dan timnya memberi label perusahaan mereka dengan nama Agate. "Sengaja pilih namanya gak keliatan Indonesia banget. Biar berkesan developer dari luar negeri," kenang Arief.
Lain dulu lain pula sekarang. Menurut Arief, masyarakat sekarang sudah lebih terbuka ketimbang dulu. Dengan demikian, developer game sekarang tidak mutlak harus go internasional dahulu baru kemudian merambah lokal.
"Beda momen. Itu kita momennya sudah tiga tahun yang lalu. Mungkin sekarang mereka mendukung dari lokal, kualitas sudah sama kok. Sudah beda mindset-nya. kalau dulu, ah lokal bisa apa. Kalau sekarang, oh sekarang lokal sudah banyak yang bagus kok," ujarnya.
Menurut pria berkacamata ini, geliat industri game memperlihatkan bukti bahwa penerimaan masyarakat terhadap game lokal sudah ada. Dikatakannya, hal ini terlihat sejak tiga tahun lalu.
Antara lain terlihat dari pemberitaan mengenai developer game yang semakin marak. Selain itu, kompetisi game untuk mencari bibit baru pun bermunculan.
(rns/ash)