Selain itu mereka juga merubah julukannya. Tak lagi game online, namun diganti dengan e-Sports alias olahraga elektronik. Bibit-bibit atlet e-Sports mulai digali. Bahkan ke depan bisa saja diakomodasi oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
"Sudah saatnya pemikiran negatif tentang games dibuang. Padahal banyak hal yang bisa diambil," kata Jenadi Binarto dari SAYAGAMER kepada di sela sosialisasi e-Sports di de Boliva Cafe and Resto, Galaksi Mall, Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Olahraga elektronik ini kata Jenadi sebenarnya sama dengan olahraga lainnya. Hanya saja medianya berbeda. Olahraga ini menggunakan komputer dan terhubung dengan akses internet.
Beberapa hal yang bisa diambil yaitu teamwork (kerjasama), leadership (kepimpinan) dan trust (kepercayaan). Oleh karena itu mereka mempunyai target kalau e-Sports ini bisa masuk sebagai olahraga yang direkomendasi oleh KONI.
"Ya, kalau bisa masuk ke PON (Pekan Olahraga Nasional). Koni pernah diundang tapi sayangnya saat itu tidak ada yang tahu mengenai olahraga ini," ungkapnya.
Pengemar olahraga ini di Indonesia sudah sangat banyak. Tapi tidak ada wadah atau komunitas tempat para atlet olahraga elektronik ini bersatu.
"Sosialisasi salah satu hal yang saat ini kita lakukan. Kita ingin masyarakat tahu dulu apa itu e-Sports dan apa saja sisi positifnya," ungkapnya.
Pria kelahiran Surabaya ini menambahkan dari e-Sports juga bisa menambah devisa negara. Singapura misalnya kata dia sampai tiga kali mengelar even e-Sports sedunia. Pesertanya berjibun dan negara mendukungnya.
Banyak sponsor yang ikut serta dan banyak pemasukan yang didapat dari olahraga elektronik tersebut. "Menguntungkan.Kita bisa menarik orang untuk datang ke Indonesia," pungkasnya.
Β
(gik/rou)