BERITA TERBARU
Rabu, 08 Mar 2017 14:17 WIB

Review Game

For Honor: Duel Terhormat yang Sengit

Angga Aliya ZRF - detikInet
Foto: screenshot detikINET Foto: screenshot detikINET
Jakarta - Absen merilis Assassin's Creed bukan berarti tak ada game menarik yang dirilis oleh Ubisoft. Sejumlah game baru, khususnya yang New IP pun bertebaran. Salah satunya adalah For Honor.

Diperkenalkan di ajang Electronic Entertainment Expo (E3) 2015 lalu, For Honor dikembangkan oleh studio game didikan Ubisoft, yakni Ubisoft Montreal. Game terbaru keluaran Ubisoft ini cukup sukses menarik perhatian lantaran menawarkan gameplay dan button control yang berbeda dari game sekelasnya.

For Honor, secara garis besar menggabungkan berbagai macam genre game, mulai dari fighting, semi RPG, semi hack and slash. Ketiga unsur tersebut menyatu dan lahirlah sebuah game baru yang asyik dimainkan.

Bila boleh memberikan komentar, sejatinya game ini adalah game fighting yang dibalut hack and slash. Namun, Ubisoft memberikan sedikit bumbu RPG (Role-Playing Game), yaitu di sektor pengembangan karakter melalui senjata dan armor.

Lalu bagaimana impresi dan pengalaman bermain For Honor? Berikut review dari detikINET!


Perbanyak Latihan

Foto: screenshot detikINET

Bisa dibilang For Honor mirip dengan Battlefield 1. Walaupun fitur utama kebanyakan ada di mode permainan multiplayer, namun developer tetap tidak mengesampingkan single player campaign.

Single player dalam For Honor bisa disebut sebagai tempatnya newbie untuk latihan, sebelum pada akhirnya Anda memasuki pertempuran yang sebenarnya di arena multiplayer. Ada tiga faksi utama yang ditonjolkan di game ini, antara lain Viking, Knight, dan Samurai.

Masing-masing faksi punya empat Hero dengan skill (kemampuan) dan cara bermain yang berbeda. Ada yang mengandalkan serangan berat, sampai ada yang mengandalkan kecepatan. Tergantung bagaimana cara bermain Anda.

Karena merupakan arena latihan, single player sangat cocok untuk mencoba semua Hero yang ada. Selain itu, single player pada akhirnya akan memudahkan Anda supaya bisa terbiasa dan menemukan Hero mana yang paling cocok dimainkan.

Foto: screenshot detikINET

Walau dijadikan ajang latihan, jalan cerita di single player campaign tidak bisa dilewatkan begitu saja. Voice acting dan animasi di cut scene memiliki daya tarik yang cukup indah dan sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Melalui single player dan mengikuti jalan cerita yang ditawarkan, Anda bisa mengetahui alasan mengapa tiga faksi tersebut bisa berseteru begitu lama. Faksi Knight bisa dimainkan pertama, kemudian dilanjut Viking, dan terakhir Samurai.

Saran kami, jangan cuma mainkan single player campaign dengan tingkat kesulitan normal, tapi juga tingkat kesulitan hard dan tingkat kesulitan paling maksimal. Hal ini dimaksudkan supaya skill bermain For Honor Anda bisa terasah dengan baik.

Bermain lawan AI (Artificial Intelligence) di tingkat kesulitan tertinggi sekalipun sangat jauh berbeda dengan melawan pemain lain. AI masih akan bermain jujur tanpa keroyokan, sangat jauh berbeda dengan main di multiplayer mode.


Kontrol yang Sulit

Foto: screenshot detikINET

Salah satu yang paling di-highlight dari game ini adalah kontrol yang sulit. Game ini mengajarkan kita untuk tidak asal pencet tombol ketika melawan musuh. Button control di For Honor benar-benar berbeda.

Ketika mengunci (lock on) satu musuh, pemain punya tiga kuda-kuda (stance) yaitu kiri, kanan, dan atas. Begitu pula musuh. Nah, untuk menyerang, pemain harus memilih posisi musuh yang terbuka sebelum memencet tombol serang, light attack atau hard attack.

Misalnya musuh berada di kuda-kuda kiri, maka pemain bisa menyerang bagian atas atau kanan. Jika menyerang di bagian kiri juga, maka serangan pemain otomatis kena block.

Cara mem-block serangan juga demikian. Ketika diserang musuh, pemain punya waktu sekitar satu detik untuk mengalihkan kuda-kuda ke posisi serangan posisi untuk menangkis serangan.

Kontrol seperti ini menurut kami berujung pada keberuntungan masing-masing player. Walaupun ada faktor skill, faktor keberuntungan nyatanya juga berperan besar. Karena kadang pemain tidak punya cukup waktu melihat serangan musuh sehingga dikira-kira saja serangan akan datang dari mana.


Duel One by One di Multiplayer?

Foto: screenshot detikINET

Sejak awal pengembangan game ini, Ubisoft berupaya memperlihatkan pertarungan satu lawan satu antar Hero di tengah peperangan. Artinya, ketika ada dua orang berduel, demi kehormatan (for honor) mereka sebaiknya tidak diganggu.

Biarkan mereka menyelesaikan pertarungannya satu lawan satu (one by one) dan mendapatkan kemenangan atau kekalahan secara kesatria. Hal ini masih bisa terjadi ketika memainkan single player campaign.

AI biasanya tidak akan menyerang pemain ketika sedang berduel. Namun yang terjadi di multiplayer bisa dibayangkan. Ketika sedang berduel satu lawan satu, selalu ada saja yang mengganggu seperti misalnya menusuk dari belakang. Gamer lain yang kami temui sepertinya tidak peduli kehormatan, yang penting bisa menang.

Hal ini membuat esensi dari game yang dirilis di Hari Valentine 2017 itu menjadi semakin melenceng. Tidak ada lagi kehormatan, yang ada hanyalah bagaimana caranya memenangkan pertempuran dan meng-upgrade karakter.

Foto: screenshot detikINET

Ada lima mode permainan di multiplayer, yaitu duel, dominion, brawl, skirmish, dan elimination. Mode dominion yang saat ini jadi favorit pemain di multiplayer.

Dalam mode ini satu tim terdiri empat pemain melawan tim lain untuk saling mengejar poin sampai menembus 1.000. Setelah satu tim mendapatkan 1.000 poin, maka tim lawan tidak bisa hidup kembali setelah tewas.

Cara mengejar poin adalah menguasai area tertentu di peta peperangan, yaitu A, B, dan C. Semakin lama satu area dikuasai, maka semakin cepat poin bertambah. Poin akan hilang ketika tim lawan mengambil wilayah yang sudah dikuasai.

Banyak pemain melakukan segala cara untuk menang, meski sampai harus merecoki dan menusuk pemain lain yang sedang duel satu lawan satu melawan musuh, seperti yang kami jelaskan tadi.

Foto: screenshot detikINET

Seperti disebutkan sebelumnya, ada empat Hero di tiap faksi, masing-masing dengan gaya bermain yang berbeda. Kelas Vanguard adalah Hero yang 'seimbang' antara serangan dan pertahanan. Kelas Assassin bergerak cepat dan lincah saat melawan musuh, tapi damage yang dihasilkan kecil.

Sementara kelas Heavies punya armor yang tebal sehingga lebih tahan serangan musuh. Kelas ini cocok untuk bertahan di area yang harus dipertahankan meski gerakan serangannya lebih lambat.

Kelas yang terakhir adalah Hybrids yang merupakan kombinasi ketiga kelas dan punya skill sendiri yang tidak bisa digunakan kelas lain.

Coba satu-satu tiap kelas di tiap faksi sebelum menentukan Hero mana yang cocok dimainkan. Sebab, experience di multiplayer melekat di satu Hero saja, tidak dibagi-bagi.

Semakin sering satu Hero dimainkan, maka semakin cepat levelnya naik dan bisa menemukan senjata atau armor yang kualitasnya lebih ciamik.


Opini detikINET

Foto: screenshot detikINET

Belum pernah ada permainan yang button control-nya seperti For Honor. Ada banyak game fighting dengan berbagai jurus, banyak juga game hack-and-slash yang hanya mengandalkan dua tombol serangan dalam melawan musuh, tapi belum pernah ada kendali seperti For Honor ini.

Ide kontrol di game ini brilian namun juga memusingkan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menguasai game ini. Jangan harap setelah menyelesaikan single player campaign kemudian jadi jago main For Honor.

Single player campaign itu bisa dibilang tutorial saja. Permainan yang lebih kompleks menanti di multiplayer mode. Game ini akan membuat adrenalin pemain memuncak ketika bisa bertarung satu lawan satu sampai mati.

Foto: screenshot detikINET

Rasa senang ketika menang dan rasa kecewa saat menerima kekalahan akan muncul di tengah kencangnya denyut jantung pemain.

Tidak ada yang istimewa dalam sisi grafis. Gambarnya cukup tajam dengan warna-warni yang cerah cukup membuat suasana pertempuran lebih meriah.

Banyak cipratan darah di game dengan rating R ini, bahkan darah tersebut sampai melekat di badan Hero untuk beberapa lama, memberikan kesan garang di Hero yang baru membunuh pemain lain.

Selain menyerang dan bertahan, ada tiga hal yang bisa dilakukan pemain untuk lebih mudah mengalahkan musuh. Pertama adalah parry, yaitu memblok serangan lawan dengan serangan juga.

Timing-nya harus tepat, yaitu ketika musuh menyerang, samakan kuda-kuda seolah mau mem-block tapi sebelum serangan sampai langsung tekan tombol hard attack.

Lawan akan terhuyung mundur dan tidak bisa bergerak untuk beberapa detik. Saatnya menyerang dan habisi musuh.

Kedua, mendorong. Perhatikan sekeliling. Kadang tombol mendorong ini sangat berguna ketika musuh berada di ujung jurang atau jembatan. Satu kali dorong bisa membuat musuh jatuh dan tewas seketika.

Foto: screenshot detikINET

Ketiga adalah special moves. Setiap Hero punya serangan spesial yang bisa dilihat di move set. Ikuti tombol yang diperintahkan, jika berhasil maka akan muncul serangan yang tidak bisa di-block.

Bagi beberapa orang, button control yang baru ini cukup memusingkan, terutama di awal-awal permainan. Jangan patah semangat, terus berlatih sampai bisa menguasai game ini dengan baik.

Selain skill yang baik, game ini juga lumayan banyak mengandalkan keberuntungan. Anggaplah lagi bermain suit tapi di abad pertengahan memakai senjata tajam. (mag/mag)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed