BERITA TERBARU
Selasa, 08 Nov 2016 18:30 WIB

Review Game

Battlefield 1: Reka Ulang Perang Dunia I yang Dahsyat

Angga Aliya ZRF - detikInet
Foto: screenshot detikINET Foto: screenshot detikINET
Jakarta - Tak dipungkiri, game tembak-tembakan dengan latar perang dunia menjadi yang paling dinati-nanti oleh sebagian besar gamer. Setidaknya itu lah yang tercermin dari komentar di YouTube ketika trailer perdana Battlefield 1 dirilis beberapa bulan yang lalu.

Bukan tanpa sebab, gamer ternyata merasa bosan dengan perang bertemakan futuristik yang disajikan dalam beberapa game tembak-tembakan belakangan ini. Karenanya, kemunculan Battlefield 1 seolah membawa angin segar bagi pencinta game bergenre shooter.

Battlefield 1 muncul sebagai kelanjutan dari game Battlefield sebelumnya, yakni Battlefield 4 dan Battlefield Hardline. Untuk yang terakhir, banyak yang menilai jika Battlefield Hardline menjadi seri Battlefield yang gagal.

Dalam pengembangannya, publisher game Electronic Arts menggandeng developer langganannya, DICE, yang memang sebelumnya kerap dipercaya menggarap game Battlefield.

Battlefield 1 membawa Anda mengarungi konflik bersejarah yang paling jarang diangkat ke dalam bentuk game, yaitu Perang Dunia I.

Beda halnya dengan Perang Dunia II, yang sering diangkat jadi game, Perang Dunia I sangat minim menjadi tema sebuah game, apalagi dengan biaya pengembangan yang besar.

Lalu seperti apa impresi detikINET ketika memainkan Battlefield 1? Simak review-nya berikut!


Pelajaran Sejarah Tanpa Bikin Bosan

Semua gamer setuju belajar itu membosankan. Namun, bagaimana kalau belajar sambil bermain game? Itu lain lagi ceritanya.

Battlefield 1 menawarkan pelajaran sejarah tanpa membuat kita bosan. Game first person shooter (FPS) ini--walau kadang jadi third person shooter dalam beberapa mode--menawarkan enam cerita fiksi dengan latar belakang sejarah Perang Dunia I.

Foto: screenshot detikINET

Untuk beberapa segmen, Batlefield 1 menceritakan peristiwa bersejarah yang memang benar terjadi. DICE pun mengadopsi beberapa karakter asli dari perang maut antar negara itu. Hanya saja, ada beberapa karakter fiksi yang dibuat untuk kepentingan game.

Single player campaign yang terbagi menjadi enam 'War Stories' ini berdurasi pendek. Setiap cerita, bisa dimainkan hanya dalam waktu kurang dari satu jam dan tidak sampai dua jam, bila dimainkan secara konstan.

Meski terbilang singkat, alur cerita yang disajikan di Battlefield 1 mampu membuat mata kita terbuka atas kekejaman perang yang memang terjadi di masa lalu. Ambil contoh epilog campaign yang tiba-tiba menempatkan pemain di tengah-tengah medan perang dan dikepung musuh tanpa ada jalan keluar.

Ya, pemain akan langsung memerankan salah satu tentara dari Harlem Hellfighter, salah satu resimen Amerika Serikat (AS) yang beranggotakan prajurit kulit hitam.

Seberapa keras pemain berusaha bertahan hidup, ujung-ujungnya pasti akan gugur juga. Setelah itu berpindah ke tentara lain, dan ujung-ujungnya tetap sama, yakni terkepung, panik, berusaha bertahan hidup, tapi akhirnya gugur.

Foto: screenshot detikINET


Campaign 'War Stories' benar-benar menyuguhkan cerita sekaligus kekejaman, perjuangan, dan pengalaman langsung di medan perang. Pesan moral yang terselip dalam game ini adalah perang benar-benar mengubah dunia beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Pada lima misi lainnya, pemain tidak hanya diberikan karakter yang berbeda, tapi juga lokasi dan gameplay baru. Pemain bisa mengontrol sopir tank dari Inggris, pilot dari Amerika, sampai pelaut dari Australia.

Tidak perlu memainkan cerita perang ini secara berurutan karena semuanya tidak terkait satu sama lain. Sebaiknya jangan melewatkan setiap cut scene yang disuguhkan supaya 'cerita perangnya' lebih terasa.

Walau single player campaign terasa sangat pendek, pemaparan ceritanya sangat menyentuh hati. Sebab hampir semua dari para tokohnya mengalami war wound (luka perang) yang membekas, baik itu secara fisik maupun mental.


Perang Multiplayer Besar-besaran

Fokus DICE dalam merilis Battlefield 1 adalah multiplayer. Dari awal demo diluncurkan, Battlefield 1 memang sengaja dikembangkan untuk perang antar player, tentu saja secara online.

Menariknya adegan pertempuran bersejarah di multiplayer ini dilakukan secara besar-besaran. Bisa dibayangkan apa jadinya jika 32 pemain lawan 32 pemain di peta yang sama, bukan.

Foto: screenshot detikINET


Banyak mode permainan yang disuguhkan dalam multiplayer Battlefield 1. Tapi, di antara mode permainan multiplayer itu, hanya Conquest lah yang menjadi mode permainan terfavorit. Dalam mode permainan ini para pemain mencoba menguasai satu wilayah dan mempertahankannya supaya tidak direbut pemain lawan.

Pemain bisa memilih untuk jadi infrantri, jadi bagian dari kru tank baja, hingga menjadi pilot yang berjuang di udara.

Mode permainan di Battlefield 1 tidak jauh berbeda dengan seri-seri Battlefield sebelumnya. Yang menjadi perbedaan tentu senjata yang ditawarkan. Senjata dalam Battlefield 1 disesuai pada jamannya, akurasi masing-masing senjata juga berbeda tergantung jenisnya. Walau menggunakan senjata kuno, tetap saja ada gamer yang menyukai senjata jenis ini ketimbang senjata laser bergaya modern.

Pemain bisa memilih menggunakan senapan mesin kuno, rifle khas sniper di masa-masa awal peperangan, sampai peluncur roket yang bentuknya seperti masih dalam tahap purwarupa.

Foto: screenshot detikINET

Yang namanya senjata jaman dahulu pasti selalu ada kekurangannya. Untuk itu, DICE pun menghadirkan kekurangan itu sebagai sebuah gimmick sehingga pemain bisa merasakannya. Pemain tak lagi bisa mengandalkan thermal scanning, holographic sights, atau bahkan drone untuk membantu di medan perang.

Tidak hanya senjata, kendaraan perang yang juga menjadi salah satu fitur utama disesuaikan dengan zamannya, seperti tank Mark I buatan Inggris sampai sepeda motor buatan Jerman.

Semua itu dibalut dalam visual yang luar biasa ciamik. Ya benar, salah satu keunggulan dari Battlefield 1 adalah visualisasinya yang indah. Konsol next generation benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik.

Foto: screenshot detikINET


Lebih serunya lagi, semua hal bisa hancur di game ini. Mulai dari kendaraan tempur sampai gedung bisa rata dengan tanah setelah selesai satu mode permainan.

Ada musuh di belakang rumah? Tembak saja pakai meriam dari tank baja. Ada musuh bersembunyi di belakang tank meja? Anda tentu bisa menghabisinya dengan menggunakan dinamit atau peluncur roket.

Tidak ada tempat untuk sembunyi bagi pengecut. Semua tempat bisa dihancurkan memakai senjata khusus. Pemain pun bisa bebas bergerak ke mana saja di peta, bahkan bisa sampai tersesat.

Foto: screenshot detikINET


Sayangnya, ini menjadi salah satu kelemahan Battlefiled 1. Area peta yang sangat besar membuat pemain sulit berkoordinasi dengan rekan satu timnya. Untuk itu, detikINET menyarankan agar menggunakan microphone dalam bermain.

Misalnya, dalam permainan 32 vs 32, para pemain terbagi ke tim-tim kecil yang beranggotakan hingga enam pemain. Nah, kesulitannya adalah para tim-tim ini hanya bisa berkomunikasi dengan sesama timnya. Sementara tim lainnya, tidak bisa berkomunikasi.

Kelemahan berikutnya adalah sistem meningkatkan level pemain juga cukup bikin pusing dan sangat lambat. Ada beberapa class yang syaratnya lumayan sulit ketika ingin naik level. Misalnya ada yang syaratnya menghancurkan sejumlah tank sebelum bisa naik kelas.

Tapi ada juga class yang sangat mudah menaikkan levelnya, yakni class medic. Class medic memiliki persyaratan naik level yang cukup mudah, yaitu hanya dengan mendatangi mayat tentara yang gugur beberapa kali, Anda sudah bisa naik kelas. Ini merupakan satu dari beberapa hal yang harus diperbaiki oleh pengembang.


Opini detikINET

Foto: screenshot detikINET


Secara gameplay, Battlefiled 1 bisa dibilang hanya diibaratkan sebagai baju baru dari orang yang lama. Latar belakangnya saja diubah jadi Perang Dunia I, tapi gameplay tetap Battlefiled yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Secara visual, game ini menawarkan grafis yang memukau. Dari mulai bayangan sampai refleksi di air dikemas apik dalam game ini.

Mode multiplayer seru untuk dimainkan bersama teman dekat maupun orang asing secara acak. Namun kelemahannya adalah kordinasi tim dalam game ini sangat sulit.

Permainan masih mengandalkan skill masing-masing pemain, bukan kerja sama tim. Sangat sulit berkoordinasi ketika kita sendiri tidak tahu musuh akan datang dari arah mana di tengah-tengah peta yang sangat luas.

Biasanya kita baru tahu arah tembakan setelah salah satu anggota tim tewas. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk bisa menguasai mode multiplayer di permainan ini.

Apalagi di awal-awal, karakter yang dimainkan masih 'cupu' atau newbie sehingga skill-nya haris ditingkatkan dulu dengan sering bermain.

Mainkan game ini jika ingin bernostalgia dengan game tembak-tembakan berlatar belakang perang jadul, apalagi jika sudah bosan dengan tema modern dan futuristik. Jadi, buat para gamer yang kangen bermain game perang dengan tema jadul, Battlefield 1 ini bisa jadi pilihan yang cocok. (mag/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed