Nah, mulai dari sinilah Grey dan rekannya malah berteleportasi ke dunia antah berantah yang dihuni oleh para mahluk asing.
Untuk kembali ke Bumi, Grey dan rekan wanitanya harus pergi keberbagai tempat untuk menemukan spare part guna memperbaiki pesawat yang akan mereka tunggangi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sayang, konsep yang telah ditanamkan oleh Airtight Games--pengembang Dark Void-- tampaknya harus kandas. Dalam Dark Void, gamer malah hanya disodorkan aksi pertempuran di darat dan udara yang membosankan.
Beberapa Elemen yang Membosankan
Konsepnya memang menjanjikan, namun realisasinya justru membosankan. Hal pertama yang membuat game ini terasa begitu membosankan adalah tingkat kepintaran musuh di dalam game.
Artificial Intelligence (AI) dalam Dark Void masih terlihat bodoh. Hal ini ditandai dengan beberapa modus penyerangan yang serupa, terlebih lagi para alien malah menyerang tanpa arah tembakan yang jelas.
Hal lain yang membuat game ini makin membosankan adalah penampakan para musuhnya. Musuh dalam Dark Void seakan tidak ada habisnya, dan makin menyebalkan karena setiap musuh tampak sama dan seragam.
Ketika pertempuran berlangsung, tidak hanya baku tembak atau AI para musuh saja yang membuatnya membosankan, namun musik latar dalam game ini juga ikut memperparah suasana.
Bagaimana tidak, hampir di setiap pertempuran pemain akan disajikan musik latar yang sama. Terlebih lagi game ini sangat minim dialog, dan kualitas percakapan pun masih terdengar 'seadanya'.
Sistem kendali ketika gamer berada di udara pun turut berpartisipasi dalam deretan 'daftar menyebalkan' Dark Void. Ketika dijajal detikINET, sistem kendalinya sungguh tak karuan.
Pemain mudah sekali terombang-ambing di angkasa hanya dengan sedikit kesalahan. Untuk mengendalikan saja terasa sulit, apalgi ditambah menghadapi musuh yang banyak.
Meski digempur habis-habisan oleh pesawat mahluk asing, namun detikINET malah sering 'tewas' akibat menubruk tebing jurang, bukan karena terkena tembakan para mahluk asing tersebut.
Jika game ini sedemikian membosankan, lantas apa yang menarik dari Dark Void? Bagusnya, game ini masih terselamatkan oleh kualitas grafis dan teknologi yang diusungnya.
Terselamatkan Kualitas Grafis
Bisa dikatakan Dark Void tidak memiliki AI ataupun kualitas suara yang baik, namun game ini masih bisa terselamatkan berkat kualitas dan teknologi grafis yang diusung.
Dark Void menggunakan Unreal Engine 3.0, sehingga kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Setiap animasi ataupun kilatan laser yang keluar dari moncong senjata sangat terlihat baik.
Terlebih lagi game ini juga telah mengadopsi teknologi PhysX. Alhasil, efek kehancuran yang disebabkan oleh senjata kian terasa nyata. Animasinya bagus, serpihannya juga presisi.
Meski memiliki beberapa elemen yang membosankan, namun tidak dipungkiri jika Dark Void masih memiliki fitur yang cukup dapat diandalkan.
Para gamer masih akan terhibur dengan baku tembak yang terjadi di daratan, dan proses pengumpulan spare part pesawat yang juga tidak kalah seru.
Berpergian dari tempat satu ke tempat lain, lalu bertemu dengan penduduk pribumi yang masih sangat primitif, adalah faktor yang cukup menyenangkan dalam Dark Void.
Kesimpulannya, game ini masih cukup layak untuk sekadar mengisi waktu luang. Para pemain yang menginginkan sebuah game tanpa banyak berpikir pun, bakal cocok dengan game terbitan Capcom ini.
Kelebihan:
+ Grafis bagus
+ Banyak adegan pertempuran
Kekurangan:
- AI kurang cerdas
- Musik latar yang membosankan
- Sistem kendali yang buruk ketika di udara
Dalam mereview game ini, detikINET menggunakan sistem berbasis: Prosesor Intel Core i7 965, Intel DX580SO, Digital Alliance GTX 275, Corsair HX1000W, Corsair Dominator 6GB kit, ASUS VH226 dan sistem operasi Windows 7
Β
(eno/ash)