4 Langkah Menggali Keindahan Tersembunyi

Tips Fotografi

4 Langkah Menggali Keindahan Tersembunyi

Ari Saputra - detikInet
Kamis, 17 Mar 2016 11:17 WIB
Foto: detikINET/Ari Saputra
Jakarta - Membuat komposisi foto yang mudah dinikmati dan tetap mempunyai kedalaman cerita adalah tantangan tersendiri.  Sebab, tidak semua kondisi menawarkan komposisi ruang yang mendukung. Terkadang tersembunyi, berantakan dan perlu memutar otak berkali-kali. Tetapi di lain waktu komposisi yang baik sudah terhampar di depan mata

Jika sudah begitu, maka kejelian mata fotografer menemukan komposisi yang bagus dengan cepat adalah suatu keharusan. Kejelian ini yang bakal membimbing sesuatu yang biasa menjadi terlihat fotogenik dan luar biasa. Sekaligus menyortir mana saja yang kurang menarik atau tidak bisa dimaksimalkan.

Berikut beberapa langkah singkat untuk menemukan komposisi ruang yang atraktif dengan cepat, ringkas dan tetap solid. Yang terkadang tersembunyi di balik simbol dan pesan alam yang tidak disadari.

1. Gunakan insting dan sedikit cita rasa sampai menemukan titik pengambilan gambar yang menarik. Terdengar sederhana namun pada prakteknya lumayan melelahkan. Sebab, fotografer diminta aktif berkeliling, memilah dan membuat skala prioritas mana-mana saja yang menarik sebagai spot pengambilan gambar.

Seperti pada contoh pertama, fotografer perlu mondar-mandir sekitar 15 menit di sebuah lobi. Tidak lain untuk menemukan titik terbaik untuk pemotretan portrait yakni seorang ahli silat.  
Pendekar silat Arry Gautama difoto berdasarkan komposisi garis imajinatif (Ari Saputra/detikcom)
Sebaliknya pada contoh kedua, titik pengambilan gambar tidak terlampau sulit lantaran sudah ada bayangan jendela. Bayangan ini yang menuntun fotografer untuk menempatkan kamera di seberangnya.
Langkah membuat sketsa imajinatif untuk seting pemotretan indoor.
2. Setelah memperoleh spot pengambilan gambar, gunakan sketsa imajinatif untuk membantu komposisi yang akan dihasilkan. Sketsa ini semacam storyboard yang akan menjadi panduan untuk drama yang akan direkam. Sekaligus menjadi penuntun, tata letak dan setting panggung yang apik dalam pemotretan.  

Oh iya, pada praktiknya tidak perlu membuat sketsa garis seperti dalam contoh ini. Bisa dikhayalkan saja di dalam pikiran masing-masing atau dibuat sesi simulasi sebelum pemotretan sungguhan. Tujuannya untuk kelancaran komunikasi dengan model atau subjek yang akan dijepret.

Sketsa imajinatif ini yang biasanya menjadi jalan masuk untuk menangkap pesan tersembunyi. Dan sebagai pesan tersembunyi, siapa saja dapat menafsirkan dengan persepsi masing-masing. Kekayaan persepsi itulah yang membuat suatu foto lebih berbicara dan mempunyai daya pengaruh ke mana saja.
Menemukan komposisi yang menarik dengan membuat pola imajinatif.
 3. Perhatikan sumber dan arah cahaya. Tengok kiri-kanan dan perhatikan kekuatan cahaya yang akan jatuh ke subjek. Kalau indoor, perhatikan pendar lampu, apakah keras seperti lampu spot ataukah lembut seperti lampu meja. Jika matahari, apakah tertutup awan, terhalang dedaunan ataukah langsung ke subjek.

Sumber cahaya terkait dengan white balance, arah cahaya tidak dipisahkan dengan bayangan dan kontras yang dihasilkan.  Misalkan sumber cahaya merupakan lampu ruangan yang berwarna kuning seperti dalam contoh pertama, maka white balance harus disesuaikan sampai menghasilkan warna yang diinginkan. Bacalah petunjuk manual dalam setiap kamera untuk menemukan white balance yang sesuai.

Arah cahaya akan berdampak pada bayangan yang jatuh pada subjek. Jika kontrasnya tinggi, bayangan yang dihasilkan juga sangat pekat. Sebaliknya jika kontras rendah, bayangan lebih lembut. Gunakan perbedaan ini dengan apik dan racik menjadi bahan membuat foto yang dramatik.

4. Setelah mendapat komposisi yang memungkinkan dan dianggap nyaman, masukkan subjek dalam setting ruang tersebut. Apakah di sepertiga kiri atau sepertiga kanan. Apakah separuh badan ataukah seluruh badan hingga kaki. Tidak ada rumus baku karena sesuai kebutuhan masing-masing.

Seperti pada contoh pertama, subjek ditempatkan di sepertiga kiri sementara dua pertiga kanan dibiarkan kosong. Tidak lain karena kebutuhan editorial sehingga ruang kosong tersebut diperuntukan bagi teks (judul/kutipan). Sebaliknya pada contoh kedua yang hanya melayani foto dokumentasi, maka subjek menjadi titik pusat cerita.
Hasil foto setelah dicroping dari contoh kedua. (Ari Saputra/detikcom)
Jangan lupa untuk terus berlatih mempertajam intuisi dan ketajaman mata fotografi. Dari aktivitas sehari-hari sampai momen-momen tertentu yang berharga.

Sehingga saat pemotretan singkat sekalipun, yang hanya melintas beberapa detik, fotografer sudah mampu menangkap pesan tersembunyi untuk menjadi modal utama dalam membangun foto yang kuat dan powerful.

(Ari/ash)