Menundukkan Lampu Dinding yang Cantik Tapi Bikin Horor

Tips Fotografi

Menundukkan Lampu Dinding yang Cantik Tapi Bikin Horor

Ari Saputra - detikInet
Senin, 09 Nov 2015 07:08 WIB
Wall decoration dengan lampu sorot di sebuah rumah di Bintaro. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Lampu spot kecil kerap ditemui pada pameran seni atau rumah kediaman. Biasanya menyorot pajangan dinding untuk menghasilkan fokus perhatian yang maksimal sekaligus menghidupkan ruangan. Cantik dan makin digemari.

Sebaliknya, di mata kamera sungguh berbeda dengan mata manusia. Jika terlihat secara istimewa secara kasat mata tetapi kalau diintip melalui lensa kamera menjadi rusak. Lampu spot dinding membuyarkan tekstur dan detil secara fotografis. Akibatnya gambar menjadi flat dan menghilangkan informasi penting yakni kedalaman cerita dan fakta yang otentik atas subjek yang difoto.

Seperti dalam contoh dalam tulisan ini. Lampu spot sukses membuat kepala rusa mempunyai panggung dan emosi yang kuat. Tetapi cahaya lampu sorot yang tidak terkontrol menyebar ke area lain dan membuat dinding bata menjadi over exposed (terlampau terang). Detail dan tekstur material dinding menjadi tersembunyi sehingga membuat horor bagi genre fotografi interior.

Untuk mengakali penyebaran tidak merata lampu spot, triknya mudah. Yakni dengan menyediakan kertas minyak atau kertas yang biasa untuk membuat kue. Lalu potong secukupnya dan tempelkan menggunakan selotip di lampu spot. Gunakan beberapa lembar kertas minyak jika lampu tembak masih terasa kencang.


Behind the scene. Lampu sorot sangat kencang (kanan atas) disaring dengan kertas transparan (kanan bawah). (Foto: Ari Saputra/detikcom)


Kertas ini menjadi filter yang mengurangi cahaya yang terlampau kencang. Sekaligus melembutkan cahaya sehingga tekstur dinding bata ekpose muncul dan bisa dipotret dengan aman.

Cara ini bisa dipraktikan pada lampu lain yang berkarakter serupa. Gunakan kreativitas untuk setiap perbedaan ketajaman lampu. Jangan lupa mencopot kertas tersebut setelah pemotretan. Selamat mencoba.


Wall decoration sebelum menggunakan filter kertas (kiri) dan setelah menggunakan filter (kanan). (Foto: Ari Saputra/detikcom)



(Ari/ash)