Biar Keren Foto Gelap-gelapan, Coba Cara Ini

Biar Keren Foto Gelap-gelapan, Coba Cara Ini

Ari Saputra - detikInet
Jumat, 11 Sep 2015 08:55 WIB
Jakarta - Di kegelapan Sea Aquarium Singapura, sepasang turis lagi selfie. Keduanya agak kerepotan pada awal-awal menjepret karena kondisi sedang lowlight alias gelap-gelapan.

Namun pada jepretan berikutnya, sang perempuan mengeluarkan ponsel dan menyalakan lampu flash dengan agak lama (continues light). Di sampingnya, si pria pun leluasa memencet shutter di depan aquarium raksasa tanpa harus takut fotonya bakal under exposure alias gelap gulita.

Mengadopsi kisah itu, kemampuan flash di kamera memang bisa dimaksimalkan. Telebih dengan teknologi lampu LED yang terang memancar, flash ini bisa bekerja optimal dengan kondisi ruang yang gelap. Semakin gelap ruangan, semakin terang pula cahaya yang dihasilkan.

Untuk membuktikan itu, pemotretan dilakukan dengan berbekal flashlight smartphone semata. Sebelumnya, mini tripod disiapkan sebagai light stand. Dengan bantuan light stand tersebut, lampu flash akan menyorot secara terus menerus (continues light) dengan stabil kepada subjek foto.

Dua buah kamera kuno dijadikan model yakni Kodak Duaflex IV dan Trusite Minicam yang beken tahun 50an. Keduanya ditempatkan pada backdrop yang sudah diseting sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu mengeluarkan karakter Kodak Duaflex IV dan Trusite Minicam.

Selain itu, selembar uang kertas juga dijajal untuk mengeksplorasi kemampuan flashlight pada kondisi super lowlight. Lampu flash ditempatkan di belakang pintu sehingga menghasilkan sinar memanjang yang menimpa uang kertas.

Langkah terakhir yakni menyiapkan tripod untuk menyangga kamera. Tidak lain untuk mengantisipasi speed lambat yang harus ditempuh karena kondisi low light. Bisa saja kecepatan dipaksa hingga 1/60, namun ISO harus diatas 2500 dengan diafragma hingga f/1,8. Konsekuensinya, foto bakal grainy (bintik pasir) -- sesuatu yang dihindari dalam pemotretan kali ini.

Setelah semuanya siap, shutter dipencet dengan takaran diafragma-ISO-speed yang berbeda-beda untuk menemukan gambar yang diinginkan. Patokan dasarnya pada ISO 100 dan ISO 200, sehingga speed dan diafragma menyesuaikan pada moda Manual sampai menghasilkan gambar akhir seperti dalam tulisan ini.

Oh iya, pemotretan dilakukan dengan tetap mempertahankan komposisi dan angle yang terukur. Penggunaan rule of thirds dipergunakan untuk menghasilkan foto yang mudah dicerna dan informatif.

Dengan taste dan feel berbeda, siapapun bisa menjajal kemampuan lampu flash smartphone masing-masing di rumah dengan gaya dan subjek foto yang tidak harus sama. Bisa sekedar untuk dishare ke media sosial, menjadi wallpaper komputer atau sekalian mengasah kepekaan visual. Itulah sebabnya, memotret begitu menyenangkan.

(Ari/rou)