Mau Bikin Classic Portrait Keren di Rumah? Begini Caranya!

Tips Fotografi

Mau Bikin Classic Portrait Keren di Rumah? Begini Caranya!

Ari Saputra - detikInet
Senin, 27 Jul 2015 07:07 WIB
Foto portrait yang dibuat hitam-putih di komputer. Foto dilakukan dengan mengandalkan cahaya samping dari jendela rumah. (Foto: Ari Saputra/detikINET)
Jakarta - Memasuki museum di Eropa dengan koleksi abad pertengahan, siapa saja bakal dijamu dengan lukisan-lukisan portrait yang monumental. Terutama dari sisi teknik pencahayaan, komposisi yang begitu menginspirasi dan mempunyai pengaruh luas di berbagai bidang.

Belum lagi kekuatan non teknis (cerita, drama, ide) dari para maestro tersebut sehingga karya-karya mereka masih dikagumi melintasi ruang dan waktu.

Salah satu yang mengadopsi kekuatan lukisan-lukisan portrait ya fotografi. Sebab, foto portrait dengan ragam genre (human interest, beauty shoot, dokumenter, model dll) merupakan aktivitas fotografi yang memposisikan seseorang sebagai subjek utama cerita.

Selain itu, teknologi digital membuat siapapun bisa memotret portrait tanpa harus dengan kamera super mahal dan dilakukan di studio foto dengan alat super lengkap. Kalaupun harus menggunakan tambahan alat, masih bisa disesuaikan dengan budget seperti menggunakan teknik strobis.

Untuk saat ini, bukan tidak mungkin, foto portrait bisa dilakukan di rumah dengan hasil yang maksimal tanpa harus repot dengan lampu atau aktivitas outdoor lainnya.

Pertama, temukan spot yang paling memungkinkan, terutama untuk urusan cahaya. Titik paling populer yakni di dekat jendela. Sebab, dengan memotret bersisian dengan jendela, mampu mengekplore kekuatan cahaya secara maksimal.

Jika mau lebih sempurna, bisa menambah lampu flash atau reflektor. Fungsinya untuk memantulkan cahaya dan mengisi area gelap yang ada.

Kedua, tentukan kostum atau baju yang sesuai dengan background atau cerita. Carilah warna warna yang kontras atau sebaliknya, lembut dan kalem. Apapun itu, usahakan tetap mempunyai komposisi warna apik untuk disampaikan dan dilihat.

Oh iya, beberapa genre portrait menggunakan gaya teatrikal dan itu membutuhkan properti yang lebih kompleks. Kalaupun itu diperlukan, usahakan tetap mempunyai relasi cerita yang proporsional.

Ketiga, pose. Ya, pose. Kenapa? Karena bahasa tubuh ini ikut menentukan kekuatan sebuah foto portrait. Jangan sampai pose yang tidak nyaman membuat subjek menjadi canggung.

Meski yang bakal dijepret mungkin hanya separuh badan atau kurang dari itu, pose yang canggung tetap akan terlihat. Karena itu usahakan subjek mampu tampil tetap rileks dan alami.

Salah satu solusi yakni dengan berkomunikasi dengan model, membuat joke atau sekedar bertanya hobi dan makanan favorit -- meski itu keluarga sendiri. Sebab, dalam beberapa kasus pemotretan, subjek yang akan difoto tetap kikuk meski yang memotret masih saudara sendiri. Mungkin karena tidak terbiasa di depan kamera atau ada perasaan tidak nyaman untuk alasan yang sulit dinyatakan.

Nah, komunikasi yang baik memutus jarak antara hubungan fotografer dan objek foto. Diharapkan komunikasi yang baik mampu menjalin relasi yang lebih dekat layaknya seperti sedang ngobrol biasa. Seolah-olah tidak ada kamera yang menghalangi.

Keempat, eksekusi. Tugas paling berat memotret clasic portrait ya saat eksekusi ini. Sebab, fotografer harus menemukan komunikasi mata dan batin lewat kamera. Meski yang difoto bisa jadi keluarga sendiri, bukan berarti komunikasi tersebut mudah diperoleh melalui medium kamera. Masih banyak yang canggung ketika harus berpose di depan kamera atau sebaliknya, berlebihan dan membuat foto classic portrait kurang terkontrol.

Usahakan foto yang dihasilkan mampu merekam emosi, karakter dan sosiokultur subjek yang difoto. Tetaplah fokus pada bahasa mata, mimik wajah, gesture badan dan 'pesan tersembunyi' dari subjek yang akan difoto.

Pesan tersembunyi dalam foto portrait itu seperti yang dikatakan oleh fotografer legendaris Irving Penn sebagai karakter indah tetapi takut untuk ditunjukan. Biasanya tertutup oleh beban sosial dan aktivitas sehari-hari . Oleh karena itu, jangan mudah tertipu oleh kulit luarnya, melainkan mampu memotret hingga menembus gejolak rasa lewat bahasa mata, jendela hati yang sesungguhnya.

Hal lain yang tidak kalah penting saat eksekusi yakni mengendalikan cahaya. Apakah akan menyinari seluruh wajah atau sebagian saja. Kalau sebagian, berapa banyak yang akan tertimpa cahaya dan bagaimana gradasi bayangan yang timbul. Bagaimana dengan bayangan yang jatuh di wajah, pipi atau hidung? Apakah akan dihilangkan ataukah akan diekpose ?

Kelima, pasca pemotretan. Koreksilah di komputer seperlunya dan sesuai kebutuhan. Seperti saturasi warna, cropping atau membuat foto menjadi hitam-putih.

Bagi yang memotret dengan file RAW, mengoreksi pasca pemotretan jauh lebih mudah karena mempunyai banyak pilihan. Pun begitu bukan berarti yang terbaik karena bisa memakan waktu lebih lama dari file JPEG.

Bila ingin mencetak foto sebelum dibingkai, pastikan mendapat tempat print digital yang sesuai. Terutama soal saturasi, tinta, hingga kualitas kertas/kanvas. Tetaplah berkomunikasi dengan petugas percetakan untuk memperoleh hasil maksimal. Kemudian pilihlah bingkai yang tepat seperti warna yang cocok, tebal-tipis bingkai dan warna dinding yang match.

(Ari/rou)