Membuat Foto Lebih Atraktif dengan 'Vitamin D'

Tips Fotografi

Membuat Foto Lebih Atraktif dengan 'Vitamin D'

Ari Saputra - detikInet
Senin, 15 Jun 2015 10:26 WIB
Jakarta -

Pada beberapa pemotretan seperti beauty shoot, bayangan benar-benar dihindari. Kalau pun harus ada, biasanya bayangan akan dibuat selembut mungkin dengan memberi softbox, mem-bouncing (memantulkan cahaya) atau memberi filter khusus supaya cahaya tidak terlalu kencang.

Akan tetapi, untuk beberapa pemotretan yang lain, bayangan ini malah dicari. Setidaknya untuk membuat efek layer atau berlapis-lapis sehingga membuat foto lebih berdimensi. Layer ini mengingatkan panggung teater dengan kontras lighting yang tinggi untuk membangun karakter sang aktor/aktris. Termasuk memperkuat cerita, plot dan penokohan yang akan dijepret.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, foto-foto yang menambahkan unsur bayangan dengan proporsional mampu menghadirkan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Biasanya foto sore hari atau pagi hari saat matahari memberi 'vitamin D' alias vitamin Dramatis.

Pada contoh pertama, pemotretan dilakukan pada pagi hari saat matahari pagi menembus jendela rumah (cahaya samping). Bayangan partisi kaca membuat garis yang membentuk pola dan tekstur kuat pada subjek foto berupa bunga di dalam vas yang berdiri di atas meja merah menyala. Komposisi warna kuning-hijau-merah sengaja dipilih untuk membuat narasi lebih kuat dan tegas, mengimbangi perbedaan exposure yang tinggi.


Cahaya samping dari jendela (kiri) dan setelah sinar matahari meninggalkan kamar (kanan). (Foto: Ari Saputra)

Setelah matahari agak meninggi, bayangan pun menghilang. Akibatnya bayangan pada vas dan bunga lebih lembut (foto kanan). Tidak ada garis partisi jendela yang tajam. Warna merah pun lebih soft. Drama yang dihadirkan tidak sekontras sebelumnya dan minim konflik.

Pada contoh foto kedua, pemotretan dilakukan di pada sebuah persewaan baju tradisional Korea di Bukchon Village, Seoul. Foto pertama berlatar dinding rumah yang tersembunyi dari sinar matahari langsung. Sehingga foto yang dihasilkan tidak menggambarkan perbedaan cahaya/exposure yang tegas.

Wajah model terlihat dengan jelas namun penokohannya harus bersaing dengan background yang cukup dominan. Karakter model pun harus berbagi peran dengan background sehingga penokohannya kurang maksimal. Setting tempat ini membuat beberapa teman menyangka foto dengan baju Hanbok tersebut dihasilkan di studio yang bisa dilakukan di Jakarta.

Untuk memberi cerita yang sedikit berbeda, model digeser ke spot berbeda di area yang sama (foto kanan). Perbedaan signifikan terlihat dari bayangan yang dihasilkan yakni garis terang dan gelap secara kontras. Gambarpun lebih berdimensi dan dinamis.

Model yang diarahkan untuk melintas dari area gelap ke area terang seperti diberi lampu sorot yang membuat frame terasa renyah. Warna baju lebih menyala lantaran background lebih gelap.

Model pun lebih menonjol karena tidak harus berbagi peran dengan background. Bahkan, background sangat menolong untuk membangun cerita dengan menarik.



Foto turis Indonesia di Bukchon Village, Seoul. Hanya memindahkan spot pemotretan di area yang sama, menghasilkan cerita berbeda. (Model: Naomi. Foto: Ari Saputra)

Foto ketiga yakni bus melintas di sebuah bayangan bangunan kota Otaru, Jepang. Foto pertama matahari sempat menyorot sebagian badan bus. Sementara foto satunya, seluruh badan bus tertutup bayangan gedung.


Bus melintas di Kota Otaru, Jepang. (Foto: Ari Saputra)

Hampir tidak ada perbedaan mencolok jika tidak ada tulisan Otaru. Sorotoan itu yang seakan menandai secara spesial kota kecil di utara Jepang tersebut. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul dengan melihat Otaru disorot cahaya. Alhasil, foto pertama memiliki kemampuan men-direct perhatian penonton dengan cepat soal kota, cerita dan tradisi.

Foto keempat merupakan foto arsitektur bangunan Dongdaemun Design Plaza (DDP) di Seoul, Korea. Nyaris tidak ada perbedaan tajam antara dua foto untuk urusan bayangan. Hanya saja pada foto pertama terdapat sinar matahari yang jatuh di dinding. Seakan ada beberapa layer/lapisan yang menyusun foto tersebut. Pengaruhnya membuat foto tersebut lebih menonjol dari foto kedua.


Perbedaan jatuhnya sinar matahari di Dongdaemun Design Plaza di Seoul membuat karakter foto berbeda pula. (Foto: Ari Saputra)

Oh iya, tulisan ini bukan untuk membuat rangking bahwa foto tanpa permainan bayangan itu buruk sementara yang mempunyai kadar kontras tinggi itu lebih baik. Keduanya tetap menarik dan berkualitas tergantung kebutuhan dan pilihan artistik sang fotografer. Ada kalanya harus menghilangkan bayangan, tetapi terkadang justru mengeksplorasi kontras ekposure dengan maksimal.

Selanjutnya, mari bangun pagi, survei lokasi, perhatikan arah cahaya matahari dan bersiaplah untuk berburu 'Vitamin D', vitamin untuk foto-foto yang lebih dramatis!



(Ari/ash)