Mengulik Teknologi Phase Fresnel Lensa Nikon 300mm

Mengulik Teknologi Phase Fresnel Lensa Nikon 300mm

- detikInet
Rabu, 04 Feb 2015 10:11 WIB
Jakarta -

Di Consumer Electronics Show (CES) 2015 lalu, Nikon mengumumkan lensa dengan teknologi Phase Fresnel (PF). Dengan teknologi ini Nikon berhasil membuat lensa telefoto 300mm f/4 yang bobotnya hanya setengahnya dari lensa Nikon 300mm f/4 sebelumnya yang tidak mengunakan teknologi ini (755 gram dibandingkan dengan 1,44 kg).

Panjang lensa juga berbeda cukup signifikan (14,75 cm dibandingkan dengan 22,5 cm). Diameter filternya juga tidak terlalu besar, yaitu 77mm.


Keterangan foto: Perbandingan ukuran antara lensa Nikon 300mm PF dengan lensa 300mm yang lama.

Menurut penjelasan Nikon, PF mengkompensasi munculnya chromatic abberation dengan memanfaatkan fenomena difraksi foto.

Dengan mengunakan PF ini, tidak dibutuhkan banyak elemen lensa yang tadinya digunakan untuk menekan munculnya chromatic abberation. Hasilnya adalah lensa yang ukurannya lebih kecil dan relatif ringan.

Lensa biasa membuat gambar melalui fenomena photorefractive. Tingkat refraksi lensa tergantung dari warnanya. Formasi warna di gambar berurut dari biru (B), hijau (G) dan merah (R). Karena ada perbedaan panjang gelombang tiap warna maka terjadi penyimpangan warna (chromatic abberation).

Lensa Fresnel ini mengurutkan formasi warna dalam urutan terbalik yaitu merah (R), hijau (G), dan biru (B) sehingga saat dikombinasikan, penyimpangan menjadi tidak ada karena terkompensasi.

Ada kelemahan PF ini yaitu saat memotret cahaya yang kontras seperti cahaya lampu di malam hari, bisa muncul flare berbentuk seperti cincin berwarna hijau seperti contoh di bawah ini.


Nikon mengakui adanya kelemahan ini dan menawarkan solusi untuk mengurangi efek tersebut dengan software Capture NX terbarunya. Hasilnya bisa dilihat di bawah.




Lensa telefoto 300mm f/4 VR ini, cocok untuk fotografer landscape, terutama di tempat yang terpencil atau pegunungan. Fotografer olahraga juga akan senang dengan hadirnya lensa yang lebih compact ini. Harga lensa ini USD 1.997 atau sekitar Rp 25,37 juta (USD 1 = Rp 12.700).

Teknologi ini bukan sesuatu yang baru, karena juga digunakan Canon, dalam nama Diffractive Optics (DO). Beberapa lensa yang mengunakan teknologi ini yaitu Canon EF 70-300mm f/4.5-5.6 DO IS USM yang ukurannya 28% lebih pendek daripada lensa 70-300mm f/4-5.6 IS USM, dan Canon EF 400mm f/4 IS II USM.

Jika lensa ini sukses maka besar kemungkinan Nikon akan menerapkan teknologi ini ke lensa-lensa yang lain. Mengingat ukuran kamera dan lensa yang ringkas merupakan faktor yang makin penting bagi fotografer saat ini.

Contoh hasil foto dengan lensa ini bisa dilihat di sini.

 

Mau konsultasi berbagai hal seputar fotografi? Kirim saja pertanyaan ke Klinik IT detikINET di link berikut.

Yuk, belajar fotografi, editing dan ikut tur fotografi dengan infofotografi.com
.

(ash/ash)