Senin, 06 Mei 2019 18:31 WIB

Mengenal Teknologi Pixel Shift di Kamera

Erwin Mulyadi - detikInet
ilustrasi kamera. (Foto: Thinkstock) ilustrasi kamera. (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Beberapa tahun belakangan ini, mulai banyak kamera yang mampu menghasilkan resolusi foto yang lebih dari spesifikasi sensornya. Misalnya, sensor Panasonic G9 yang hanya 20MP, bisa menjadi 80MP saat mengaktifkan High resolution mode.

Berikut juga berbagai kamera yang lain, contohnya Olympus OMD EM1 mkII, Hasselblad HD6D-400c dan kamera yang terbaru Panasonic S1 & S1R.

Semua kamera yang saya sebut di atas memiliki satu persamaan, yaitu memiliki sensor shift stabilization di badan kamera, sehingga bisa menggeser sensor. Cara kerja mode ini yaitu menggeser sensor sedikit, sambil mengambil gambar. Ada kamera yang menggeser dan mengambil 4 gambar misalnya kamera Pentax K1 dan Sony A7R III.




Untuk yang 4 gambar, kualitas gambar (warna, detail meningkat) tapi resolusi atau jumlah pixel sama. Ada kamera yang mengambil 8 gambar, lalu digabungkan (stitch) menjadi satu gambar utuh, seperti Panasonic G9, S1, S1R, hasil gambarnya tidak hanya meningkat kualitasnya tapi juga resolusi-nya meningkat.

Istilah fungsi ini berbeda-beda di tiap kamera, ada yang mengatakan pixel shift, tapi sepertinya kurang tepat karena bukan pixel yang bergerak tapi sensor gambar-nya digerakkan secara mekanik oleh stabilizer kamera.

Mengenal Teknologi Pixel Shift di KameraFoto: Dok. Enche Tjin

Mungkin teman-teman pembaca bingung, untuk apa sebenarnya mode ini? Untuk bisa memahami hal ini, kita harus sedikit banyak mengerti tentang cara image sensor kamera bekerja. Di era digital, cahaya ditangkap oleh photodiode yang ada di permukaan sensor gambar.

Di photodiode tersebut dipasang filter warna supaya kamera bisa mengenali warna. Tapi setiap photodioda hanya bisa dipasangkan dengan satu warna saja, antara merah, hijau, biru saja.




Susunan yang populer yaitu Bayer, atau yang tidak begitu umum yaitu X-Trans yang terdapat di kamera Fuji. Tapi intinya warna yang ditangkap oleh kamera tidak lengkap, meskipun kamera sudah cukup pintar untuk melakukan proses interpolasi dengan metode yang disebut demosaicing sehingga kita bisa melihat gambar dengan warna yang baik. Tapi tetap hasil interpolasi ini tidak sempurna misalnya ada warna yang kurang tepat.

Di kamera Sony dan Pentax, stabilizer kamera akan mengeser sensor 1 photo dioda dan mengambil foto 4 kali, sehingga kamera memiliki data yang lengkap (2 hijau, 1 merah dan 1 biru) sehingga warna dan detail di hasil foto lebih lengkap.

Mengenal Teknologi Pixel Shift di KameraFoto: Dok. Enche Tjin

Sedangkan di Olympus dan Panasonic G9, S1/S1R, kamera akan menggeser fotodioda dalam jarak 1/2 pixel dan 8 foto, dengan hasil tidak hanya lebih baik di warna tapi meningkatkan resolusi pixel di kamera. Contohnya di G9, 20MP menjadi 80MP, di S1 dari 24 menjadi 90MP, dan di S1R, 47 MP menjadi 187 MP.

Yang mantap dari Panasonic S1 dan S1R adalah saat mengaktifkan high-res mode ini sangat cepat, dan hampir tidak ada jeda antara foto satu dan yang lain.

Selain itu, hasilnya langsung digabung di kamera, bukan di software, dan kita bisa meminta kamera untuk menyimpan satu foto RAW-nya juga.




Karena sifatnya mengambil banyak gambar lalu digabungkan, maka kamera dan subjek yang dipotret harusnya tidak bergerak. Di dalam studio untuk subjek tidak bergerak seperti makanan mungkin tidak masalah, tapi di alam, pergerakan air, daun dan ranting pohon bisa merusak gambar. Di Panasonic S ini ada mode 2 untuk mengurangi efek blur di foto.

Ada beberapa batasan saat menggunakan High res mode ini misalnya:

  • Bukaan paling kecil yang Diperbolehkan : f/16
  • Rentang shutter speed : 1 detik - 1/8000 detik (karena menggunakan electronic shutter)
  • Tidak bisa menggunakan flash/lampu kilat
  • ISO maksimum 3200
  • Focus Mode: AF-S atau Manual fokus (MF).
  • Tidak bisa diaktifkan dengan lensa APS-C (seperti lensa Leica TL)
  • Tidak bisa diaktifkan saat menggunakan Filter Setting
  • Saran saya saat menggunakan high-res mode adalah tempatkan kamera di tripod yang kokoh dan menggunakan lensa yang berkualitas tinggi untuk hasil yang maksimal.
Contoh foto dengan High resolution mode secara utuh adalah seperti di bawah ini:

Mengenal Teknologi Pixel Shift di KameraFoto: Dok. Enche Tjin


Di bawah ini adalah crop dari foto di atas, meskipun sudah crop cukup banyak, tapi detail dan ketajamannya tetap sangat tinggi.

Mengenal Teknologi Pixel Shift di KameraFoto: Dok. Enche Tjin


Lalu perlukah High Res Resolution ?


Sejujurnya, kamera yang mampu menghasilkan resolusi 24MP atau lebih tinggi sebenarnya sudah bagus, jadi untuk kebutuhan standar seperti sosial media, cetak buku foto, cetak ukuran 1 meter, sudah cukup, tapi kalau untuk dicetak dalam ukuran 2 meter atau lebih dan jika ingin dilihat dari dekat masih bagus, memang resolusi diatas 50MP lebih detail.

Selain itu bagi yang suka cropping juga baik. Gambar yang dihasilkan hi-res mode ini juga bagus, artinya saat dikecilkan otomatis mengurangi noise, alhasil foto terlihat lebih bening dan tajam.

Jadi adanya high-res mode ini berpotensi menjadi game changer karena dengan teknologi ini, fotografer akan mendapatkan kualitas gambar dalam hal warna dan detail yang nyaris sempurna.


(jsn/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed