Selain itu, 35mm menjadi salah satu legenda fotografi meski itu lensa fix, nggak bisa zoom alias fotografernya yang harus maju-mundur.
Setelah setahun berlalu, bukan itu saja kelebihan yang diperoleh. Banyak fitur yang dapat dibuktikan kekuatannya seperti simulasi filter film, akurasi lensa, ketahanan continues shoot dan kemampuan video full HD yang aduhai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lensa
Tidak banyak lensa fix dipergunakan dalam kelas compact premium, 23mm (eq.35mm pada full frame). Focal length 35mm itu rentangnya 76 derajat. Tidak cukup luas dibandingkan 28mm atau 24mm namun sudah mewadahi kebutuhan street photography atau traveling, minim distorsi dan rasionable.
Kelebihan lensa fix membuat aktifitas memotret lebih fokus dan kaya cerita. Si pemotret tidak perlu dipusingkan dengan sesuatu yang menarik nun jauh di sana melainkan benar-benar fokus pada apa yang di depan mata, kira-kira 3 hingga 5 meter dari si pemotret. Fotografer diajak untuk berinteraksi dengan subjek sehingga mendapatkan cerita yang lebih kaya.
Membuat portrait saat streetphotography sangat compact dengan X100T. Foto: detikINET - Ari Saputra |
Diafragma f/2.0 menjanjikan ketajaman di ruang gelap atau temaram. Hal ini sejalan dengan kekuatan ISO yang masih terjaga hingga ISO 6400. Keuntungan lain yakni efek bokeh yang dihasilkan terlihat lembut dan ciamik. Selain itu ketajaman lensa fix Fujinon mampu mencengkeram subjek terkecil secara aktual yang membuat keuntungan tersendiri.
Memasuki tahun kedua, kekuatan lensa X100T masih terjaga. Tetap akurat dan sensitif membaca cahaya seperti kali pertama digunakan.
Sensor
Sensor yang digunakan X100T mampu membaca data seperti gambar maupun audio dengan presisi. Kemampuan itu sejalan dengan kecepatan penyimpanan foto continuous shoot maupun video. Tinggal mencari memori eksternal yang baik maka tidak ada delay saat kamera menyimpan gambar maupun video.
Kekuatan sensor 16MP menjadi terasa ringan dengan prosesor X-Trans CMOS II . Saat mempreview hasil di LCD kamera, tidak ada jeda meski ratusan foto sudah menumpuk.
Pun demikian, penggemar Fujifilm tetap berharap prosesor itu dapat ditingkatkan menjadi X-Trans CMOS III seperti yang telah digunakan X-Pro2. Tidak lain untuk mewadahi perkembangan teknologi digital dan kebutuhan fotografi maupun videografi yang semakin kompleks.
Konektivitas
Fitur ketersambungan kamera ke smartphone menjadi hal jamak saat ini. Termasuk pula Fujifilm X100T yang mengandalkan fitur WiFi untuk transfer foto. Foto-foto pun dapat langsung dibagikan ke siapa saja (media sosial).
Fujifilm X100T dan sejumlah seri X lain sudah melayani konektivitas dengan apik. Termasuk untuk kendali jarak jauh (remote) yang membuat sudut tersulit masih bisa dijangkau.
Hanya saja untuk gambar gerak dan audio (video) belum dapat ditransfer langsung ke smartphone. Kondisi ini bisa dimaklumi lantaran besaran data yang harus dipindahkan dan membutuhkan tenaga lebih besar.
Adalah menyenangkan bila hal itu bisa dilakukan pada generasi berikutnya. Sehingga video dapat langsung ditransfer ke smartphone lalu diedit secukupnya dan langsung siar ke seantero jagat via sosmed.
Fitur film simulator
Dari sekian banyak fitur, menu film simulator merupakan pilihan paling eksperimental dan menyenangkan. Fitur ini menyajikan sekaligus mengingatkan kekayaan cerita, tren, pop culture dan tradisi panjang Fujifilm.
Foto: detikINET - Ari SaputraKemampuan filter hitam putih masih membaca detil dan gradasi cahaya dengan menarik. |
Setahun dengan X100T, filter simulation semakin membantu fotografer saat berimajinasi membangun karakter subjek. Bahkan menuntun cara bertutur secara apik dengan cara ini. Imajinasi dan kebutuhan fotografer menjadi tidak dibatasi oleh teknologi lagi.
Tombol dan kekurangan di layar LCD
Secara umum, tombol dan kenop yang didisain di badan kamera sudah user friendly. Hanya saja terdapat beberapa catatan yang cukup menganggu jika tidak disinggung.
Pertama yakni tombol kompensasi exposure di pojok kanan atau di samping shutter. Tombol ini mudah bergeser menjadi over exposure atau under exposure lantaran tidak ada tombol pengunci.
Foto: detikINET - Ari Saputra |
Pada bulan-bulan pertama tombol ini masih keset/keras sehingga tidak mudah bergeser. Namun saat memasuki tahun kedua, tombol konpensasi exposure mulai sedikit kendor, mudah bergeser dan itu cukup mengganggu ritual memotret.
Bukan hal prinsip tetapi jika tidak dibenahi pada generasi berikutnya dengan memberi tombol pengunci, masalah ini menjadi sesuatu yang annoying. Sebagai catatan, di brand lain pada desain kamera sejenis, tombol kompensasi exposure tidak ada sama sekali lantaran pada praktiknya kurang fungsional.
Selain tombol exposure terdapat tombol 'erase' atau menghapus file foto/video yang cukup membingungkan. Pada kamera, saat tombol erase dipencet akan ada pertanyaan 'ya' atau 'batal'. Jika sudah yakin dihapus, akan kembali lagi pada tombol erase.
Namun Fujifilm X100T tak langsung kembali ke tombol erase melainkan langsung memberi option serupa pada foto berikutnya. Jika tidak ingin erase, maka diminta ke tombol lain. Jika memencet tombol yang sama, maka foto akan terhapus secara otomatis β sesuatu yang membuat salah pencet mudah terjadi.
Terbukti pada bulan-bulan pertama agak membingungkan dan kejadian salah pencet terjadi. Beberapa frame foto yang penting hilang/terhapus.
Awalnya kekeliruan itu bisa dipahami lantaran belum terbiasa. Hanya saja kebiasaan itu belum juga hilang hingga setahun memegang X100T. Akibatnya, beberapa kali saya kehilangan beberapa foto karena tanpa sengaja memencet pilihan erase tanpa melalui proses pertanyaan 'ya' atau 'batal'.
Akses lain yang cukup merepotkan yakni saat menjepret dengan viewfinder untuk menghemat baterai. Dengan mode ini, kamera lupa menyalakan LCD saat fotografer hendak mengubah seting ISO, film simulator atau skala foto.
Akibatnya, saat mengintip di jendela bidik, fotografer perlu kembali ke menu LCD view untuk mengubah seting ISO maupun skala pemotretan. Jika tidak, si pemotret harus memicingkan mata di lobang intip untuk sekedar mengganti seting ISO atau film simulator.
Lama-kelamaan langkah itu kurang ekonomis dan efisien. Sebab, pada pemotretan streetphotography atau traveling seringkali membutuhkan pergantian ISO karena mengikuti perbedaan pencahayaan. Ada baiknya menjadi perhatian X100T pada generasi berikutnya untuk tetap menyalakan tombol seting pada LCD saat menyalakan fasilitas viewfinder.
Kesimpulan
Bagi yang menggunakan X100T untuk keperluan traveling, vlogger atau streetphotography, kekuatan dan endurance X100T bisa diandalkan. Mesin dan prosesor X100T belum berubah sejak jepretan pertama hingga saat ini. Akurasi warna dan ketajaman masih presisi dan akurat seperti baru dibeli.
Keunggulan pada cuaca ekstrim dibuktikan saat berpanas-panasan di Gili Trawangan atau saat dingin-dinginan di Tokyo. Pembacaan light meter tetap konsisten dan film simulatornya bekerja efektif pada suhu dan cuaca yang berbeda.
Foto: detikINET - Ari SaputraSensor masih akurat membaca data meski pengambilan gambar pada pukul 11.00 siang, saat matahari kencang dan kontras rasio tinggi. |
Penggemar X100T tentu menantikan inovasi pada generasi penerusnya yakni X100F yang dikabarkan akan diluncurkan tahun ini. Pembaruan itu, tanpa harus kehilangan karakter dan konsep utama X100T, yang bakal membuat kamera ini bisa bertahan. Sebab, ada beberapa pemain lain di kelas premium compact dengan harga mirip-mirip dan tidak kalah eksis seperti Sony RX100 V atau Leica D-Lux (Typ 109). (Ari/asj)
Membuat portrait saat streetphotography sangat compact dengan X100T. Foto: detikINET - Ari Saputra
Foto: detikINET - Ari Saputra
Foto: detikINET - Ari Saputra
Foto: detikINET - Ari Saputra