Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Snappr, Demam Uber di Jagat Fotografi

Snappr, Demam Uber di Jagat Fotografi


Penulis: Enche Tjin - detikInet

Foto: Snappr
Jakarta - Model bisnis yang mirip-mirip Uber menular ke sektor lain. Tujuannya sama, menyodorkan jasa/layanan murah dan efektif.

Adalah aplikasi baru bernama Snappr (snappr.co) yang beroperasi dengan gaya mirip Uber dan menjanjikan solusi bagi yang mencari jasa fotografi dengan mudah dan terjangkau.

Snappr menerima semua jenis fotografer baik amatir maupun profesional. Syaratnya adalah mengisi biodata, dan mengunggah portofolio hasil karya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perusahaan baru berbasis di Australia ini memungkinkan orang-orang untuk memesan jasa fotografi mulai dari AU$45 (Rp 450.000) untuk sesi foto selama 30 menit. Dari sesi tersebut, fotografernya akan memberikan 5 foto beresolusi tinggi.

Jika pelanggan menginginkan lebih banyak foto, pelanggan boleh membayar AU$5 untuk foto resolusi rendah, atau AU$15 untuk foto resolusi tinggi. Untuk jasa fotografi dengan waktu yang lebih panjang, biayanya yaitu $449 untuk 7 jam. Fotografer wajib menyerahkan 30 foto berkualitas tinggi.

Para fotografer direkomendasikan untuk memotret setidaknya 60 foto per jam. Tapi hal ini tidak wajib, karena setiap jenis fotografi berbeda. Untuk foto dokumentasi acara tari misalnya, 1 foto per menit mungkin terlalu sedikit, tapi kalau foto produk mungkin 1 menit per foto terlalu banyak, karena waktu banyak dihabiskan untuk setting kamera, lensa dan lampu daripada memotret.

Jika dibandingkan dengan jasa fotografi di Indonesia, harga tersebut terasa cukup lumayan, tapi untuk ukuran negara maju yang biaya hidupnya tinggi seperti Australia, harga tersebut tidak cukup untuk menjadikan fotografi sebagai profesi tetap.

Seperti Uber, Grab, dan Go-Jek, ide bisnis Snappr ini pun menuai kontroversi. Sebagian fotografer profesional di Australia bisa terancam karena tersaingi dengan jasa fotografi yang tersedia dengan harga yang terjangkau via Snappr.

Di lain pihak, fotografer-fotografer semi-profesional akan mendapatkan pekerjaan dengan lebih mudah. Masyarakat yang membutuhkan jasa foto juga akan senang karena mendapatkan fotografer yang tepat dengan harga yang terjangkau.

Sebagian fotografer profesional high-end di Australia mengeluh karena bayaran yang ditetapkan Snappr dirasakan terlalu rendah. Tapi CEO Snappr Matt Schiller mengatakan bahwa Snappr awalnya memang untuk melayani pribadi atau perusahaan kecil yang tidak memiliki budget yang terlalu besar.

Mereka sering membutuhkan jasa fotografi singkat seperti untuk mendokumentasi acara ulang tahun, portrait profil karyawan, acara peluncuran produk, dan lain-lain, tapi di masa depan bukan tidak mungkin akan membuka layanan untuk fotografi high-end yang lebih spesifik dengan harga yang lebih tinggi.

Saya sendiri menyambut baik dengan adanya Snappr ini, karena memudahkan untuk mempertemukan antara fotografer dan klien. Selama ini, yang paling sulit bagi fotografer berbakat adalah di sisi marketing, yaitu mencari job/klien, dengan aplikasi ini, fotografer akan lebih bisa berkonsentrasi untuk bekerja dan berkarya.

Harapan saya harga Snappr bisa disesuaikan dengan baik supaya fotografer yang bergabung bisa mendapatkan honor yang cukup dan hidup dengan layak.

Saat ini, Snappr hanya berlaku di tiga kota di Australia: Sydney, Melbourne dan Brisbane. Ke depannya mungkin akan tersedia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

*) Penulis: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi.com, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer.

Mau konsultasi berbagai hal seputar fotografi? Kirim saja pertanyaan ke Klinik IT detikINET di link berikut.

(ash/ash)
TAGS







Hide Ads