Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Melatih Mata Fotogenik di Bengkel Kerja Pak Hamim

Melatih Mata Fotogenik di Bengkel Kerja Pak Hamim


Ari Saputra - detikInet

Bengkel Pak Hamim (ari/detikINET)
Jakarta - Namanya Pak Hamim. Pengrajin manekin alias boneka manusia seukuran aslinya. Bedanya, Pak Hamim membuat manekin organ dalam (jeroan) manusia. Seperti limpa, jantung, paru-paru, otak, tengkorak hingga tulang belulang manusia. Lengkap banget. Sehingga hasil karya Pak Hamim menjadi utuh seperti kerangka manusia betulan, kalau dirangkai.

Tiruan tersebut persis hingga warna, bentuk dan detail. Terdapat cetakan khusus dan panduan cat warna supaya hasil manekin mendekati orisinil. Dan memang harus terlihat alamiah karena nantinya akan dipajang di berbagai laboratorium, rumah sakit atau pun kelas di sekolah-sekolah biologi.

"Biasanya tergantung pesanan. Tetapi ada juga yang membuat sendiri. Ada model cetakannya biar persis," kata Ibu Hamim, yang banyak bercerita daripada Pak Hamim yang pendiam, saat menjaga display manekin di rumahnya di Cinangka, Depok, Rabu pekan lalu (14/5).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rumah Pak Hamim tidak jauh dari bengkel kerjanya. Hanya berjarak 5 rumah saja dan sangat sederhana. Hanya menempati pekarangan kosong sekitar 8x6 meter. Tidak ada dinding. Atapnya hanya seng berpadu asbes. Yang menandakan bahwa itu bengkel pembuat manekin yakni ceceran bekas fiber, cat, dan beberapa contoh manekin yang telah jadi.

Saking sederhana dan kecil -- mempekerjakan 5 orang, kadang kurang kadang lebih tergantung pesanan -- bengkel kerja Pak Hamim nyaris luput dari perhatian. Kalau melintas di depannya, siapapun bakal melengos karena hampir tertutup pekarangan kosong, menyerupai bengkel ketok magic skala kecil.

Beruntung ada para fotografer yang matanya jeli dan mampu melihat sesuatu yang berbeda. Yakni melihat kreatifitas Pak Hamim bernilai unik, mempunyai nilai visual yang fotogenik dan membuat penasaran. Fotografer dalam negeri dan luar negeri sempat mampir ke sini, meski sebatas kebutuhan foto editorial (berita).

Dari Pak Hamim pula, bisa belajar banyak soal sesuatu yang menarik meski terlihat remeh-temeh. Pertama, meski kecil dan sederhana, yang dikerjakan Pak Hamim terasa luar biasa -- setidaknya secara visual. Yakni proses mencetak tulang tengkorak, tangan dan jeroan yang warna-warni. Sampai tahap finishing yakni menghaluskan (amplas) dan mengecat.

Keunikan tersebut sangat terwakili oleh bahasa visual. Lebih tampil atraktif dan mempunyai magnitude yang kuat. Sehingga ukuran fisik tidak menjadi masalah. Besar-kecilnya produk yang dihasilkan, bernilai sama di depan kamera. Yang terpenting mempunyai daya visual berbeda dan menonjol.

Yang dilakukan Pak Hamim mengingatkan ujaran, 'jangan melihat buku dari sampulnya'. Karena yang dilakukan Pak Hamim sangat menarik daripada tampilan bengkel dari luarnya semata.



Kedua, yang dilakukan Pak Hamim melatih mata menilai sesuatu secara fotogenik. Setidaknya, fotografer bisa melatih kemampuan merekam detil secara apik dan 'memadatkan' gambar secara dramatis. 'Memadatkan" gambar yakni membuang elemen-elemen yang tidak perlu dan fokus kepada yang penting dalam sebuah cerita gambar.

Kemampuan memadatkan gambar sangat diasah karena dari bengkel 'yang biasa-biasa saja' itu, fotografer dilatih untuk menyisir apa-apa yang menarik dan tidak menarik. Sehingga tidak semua bengkel bakal difoto secara total, melainkan bagian-bagian yang menarik saja sesuai penilaian dan kebutuhan fotografer.

Fotografer dituntut membuat prioritas secara spontan -- mungkin tidak disadari. Otak kanan dilatih berfikir cepat: itu perlu, ini tidak, di sana menarik, di sini tidak, saya perlu mengggeser tempat atau menunggu sebentar, adegan ini perlu diulang atau cukup, pakai lensa lebar atau detil, dengan lensa normal atau tele.

Ketiga, bengkel Pak Hamim melatih kemampuan still life dan foto produk pada level 'paling ringkas'. Maksudnya tanpa disertai dengan lighting yang rumit seperti di studio dengan peralatan lengkap dan atraktif.

Akan tetapi, subjek foto, angel dan komposisi tidak jauh berbeda. Sama-sama memotret 'benda mati' namun dituntut memotret dengan hasil 'seolah-olah hidup', bernyawa dan bercerita.

Keempat, fotografer dapat mengembangkan sikap empati sosial dan rasa peduli. Bagaimana fotografer membawa dirinya supaya apa yang dilakukan tidak mengganggu proses produksi. Mulai dari awal perkenalan dengan para pegawai bengkel, bercakap-cakap dan berinteraksi selama proses pemotretan.

Menempatkan pekerjaan mereka sebagai hal yang penting, bukan sekedar objek fotografi yang dilupakan setelahnya. Tetap menjaga sopan-santun dan tetap beretika sebagai tamu. Singkatnya, supel dan mudah bergaul menjadi syarat tak terpisahkan.

Bagaimana di lingkungan Anda? Adakah Pak Hamim lain yang juga menarik? Kalau belum, barangkali sudah waktunya mengembangkan kepekaan sosial dan imajinasi visual. Siapa tahu terdapat profesi atau pekerjaan yang sepertinya tidak penting tetapi bisa bernilai lebih bagi orang lain.

Selamat mencoba.

(Ari/ash)







Hide Ads