"Semua sumberdaya akan dikerahkan untuk menjelaskan pembunuhan ini. Kami akan menemukan pembunuhnya," kata Presiden Prancis FranΓ§ois HollandΓ© tidak lama setelah jenazah Lepage ditemukan, Rabu (13/5/2014) seperti dikutip dari Reuters.
Lepage dilahirkan di kota kecil Angers, sekitar 3 jam perjalanan dari Paris ke arah barat daya, 26 tahun lalu. Ia mulai menseriusi foto-foto berita dan dokumenter usai menyelesaikan kuliah jurnalistiknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjalani hasratnya, Lepage mengirimkan beberapa contoh hasil jepretannya kepada berbagai media besar seperti New York Times, Washington Post, Wall Street Journal dan koran Prancis Le Monde serta LibΓ©ration.
Tahun 2012, akhirnya ia mendapat tugas pertamanya ke negara konflik di Sudan Selatan. Dari tengah konflik itu, nurani jurnalistiknya makin terasah. Sampai akhirnya ia mendapat tugas dari Reuters untuk memotret konflik di Afrika Tengah.
"Saya tidak bicara tentang karir saya dulu. Saya baru memulai. Saya merasa sangat luar biasa karena dapat melakukan perjalanan ke tempat-tempat terpencil, bertemu orang-orang yang menyenangkan dan dapat mendokumentasikan mereka," kata Lepage dalam sebuah wawancara tahun lalu.
Hanya saja, ia sempat frustasi karena isu perang sipil di Afrika nyaris tidak dilirik oleh media dan menjadi bahan berita menarik. "Benar-benar bikin frustasi, tragis. Hanya media sosial yang bisa saya andalkan," tukas Lepage.
Antusiasme Lepage diakui oleh salah seorang fotografer William Daniels yang sempat bersua di Afrika Tengah. Menurutnya, Lepage merupakan pribadi yang sederhana, mudah bergaul dan pekerja keras.
"Lepage sangat aktif, sangat sabar, sangat bersemangat tentang pekerjaannya. Di Bungui -- Ibukota Afrika Tengah -- semua orang mengenal Lepage dan menyukainya. Orang-orang terkesan dengan Lepage karena masih muda dan sangat berani," tutur William Daniels.
Afrika Tengah merupakan negara bekas jajahan Prancis. Negara itu jatuh ke dalam konflik sipil 2013 setelah koalisi oposisi, Seleka, menggulingkan Pemerintah Presiden Fancois Bozize, dan berkuasa selama 10 bulan. Tidak menunggu lama, konflik menyeret pada kondisi terburuk bahkan sejumlah analisis mengatakan mulai memasuki pembersihan etnis (genosida).
(Ari/ash)