Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Fujifilm X100s & X20 Mendarat di Indonesia

Fujifilm X100s & X20 Mendarat di Indonesia


Santi Dwi Jayanti - detikInet

Fujifilm X100s (sha/detikINET)
Jakarta -

Fujifilm X100s dan X20 akhirnya resmi mendarat di Indonesia setelah sebelumnya unjuk gigi di ajang Consumer Electronics Show (CES) Januari lalu. Di Tanah Air, dua seri ini masing-masing dibanderol Rp 12 juta (X100s) dan Rp 5,9 juta (X20).

Apa saja kelebihan masing-masing model? Berikut penjelasan dari Fujifilm dalam acara launchingnya yang digelar di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta Pusat.

X100s merupakan suksesor dari X100. Huruf 's' yang disandangnya mengandung arti second version. Fujifilm X100s mewarisi desain retro yang dimiliki sang 'kakak'. Bukan tanpa alasan tentunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut perusahaan kamera asal Jepang ini, dari hasil survei yang mereka gelar di Jepang, diketahui bahwa 43,2% pengguna X100 membeli seri ini karena desainnya.

"Pengembangan X-series yang tidak berubah adalah dari sisi desain di mana mengacu pada feedback pengguna," demikian disampaikan oleh Johanes J. Rampi, Sales & Marketing Manager PT. Fujifilm Indonesia, Senin (18/2/2013).

Nah, perubahan baru dilakukan dari sektor software serta hardware. Kali ini mereka memasangkan sensor X-Trans CMOS II yang diklaim mampu mengurangi noise dan meningkatkan sensitivitas meski resolusinya 'hanya' 16,3 MP.

Dengan sensor ini pula, seri X100s ini memiliki kecepatan phase detection hingga 0,08 detik dan digadang-gadang sebagai AF tercepat di dunia.

Pengembangan lainnya terletak di prosesor. Adapun dengan EXR Processor II generasi terbaru, X100s ini memiliki start up time 4 kali lebih cepat dibanding X100 yakni 0,5 detik. Kecepatan continuous shooting serta shutter time lagnya juga kian meningkat.

Hal menarik juga dari seri tersebut yakni kemampuan melakukan pemotretan multiple exposure dengan memakai viewfinder seperti yang ada di X-Pro1.

Hybrid viewfinder (penggabungan optical viewfinder dan electronic viewfinder) yang bisa dilakukan denhgan 1 jari menjadi daya tarik selanjutnya.

LCD 2,35 juta titik, Focus Peak Highlight (untuk menandai bagian-bagian yang fokus dengan highlight), digital Split Image mode simulasi film dan pemakaian manual focus di video adalah sejumlah peningkatan lainnya dari X100s. Ia memiliki kemampuan perekaman video full HD 1080p 60fps.

Johanes berani mengatakan bahwa di Indonesia seri compact dengan fixed lens Fujinon 23mm f2 ini, tidak memiliki kompetitor.



Kamera kedua adalah X20. Menurut Ade Yogaswara, Product Specialist PT Fujifilm Indonesia, kelahiran X10 dan X20 merupakan jawaban atas permintaan dari pecinta X100 yang menginginkan keberadaan zoom.

"Mostly digunakan untuk major activity. X20 bener untuk mereka yang totally nggak mau repot dengan segala macem bawaan, tapi pengen zoom," tukasnya kepada detikINET.

Jika X100s memakai sensor APS-C, X20 memakai 2/3 inch X Trans CMOS II dengan 12 MP dan lensa Fujinon yang mampun melakukan optical zoom 4x dengan aperture f/2.0-f/11 di posisi wide. Start up timenya sendiri di angka 0,5 detik

Di seri kedua tersebut, Johanes mengaku pesaingnya cukup banyak, termasuk seri G15 dan G12 milik Canon. Ia menargetkan, pihaknya bisa menjual 1.000 unit untuk flagship X100s dan 1.500 unit X20 di tahun ini.

(sha/ash)






Hide Ads