Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kuis FotoStop
Ini Dia Pemenang Kontes FotoStop November
Kuis FotoStop

Ini Dia Pemenang Kontes FotoStop November


Tim - detikInet

Bagaimana Kami Membalasnya? (Eka Mahendra Putra)
Jakarta -

Kontes FotoStop detikINET dengan tema 'Pahlawanku' di bulan November telah memunculkan jawarannya. Dia adalah Eka Mahendra Putra dengan foto berjudul 'Bagaimana Kami Membalasnya?'. Yuk, intip kisah di foto tersebut.

Renta, sedikit bungkuk, berjalan perlahan, mata nyaris terpejam, namun masih ingin memperlihatkan kegagahannya. Setiap melewati bendera merah-putih ia seakan tersengat untuk memberi hormat.

Pelan-pelan mengadahkan kepala ke atas, diam sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan dengan gontaian dua kaki rentanya, sedikit-demi-sedikit sosok pria tua renta itu menghampiri podium sebuah acara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan baju veteran berwarna hijau lumut yang sedikit kusut, topi veteran yang sengaja ia miringkan ke kanan lalu membenarkan posisi celananya yang mungkin sedikit kedodoran, menutupi sepasang sepatu kulit hitam yang bagian belakang sudah terkelupas oleh umur, pelan-pelan dibantu seorang PNS, bapak itu, atau kakek itu duduk di kursi merah berada di barisan depan.

Setelah merasa agak nyaman sang veteran tua terlihat melepaskan desah nafas panjang pertanda ia lelah. Saatnya aku istirahat, mungkin itu dalam benak kakek veteran perang yang dalam masa tuanya masih terlihat bangga akan hadirnya ia di sebuah upacara kenegaraan pada 17 Agustus.

Dia seakan masih bangga dan seperti ingin berteriak kepada sejumlah anak-anak sekolah, para PNS, pegawai, tentara dan polisi yang berjejer di depannya, bahwa Negara tidak berdiri sendiri seperti sekarang, Negara ini berjalan dan tegak karena darah, nyawa, keluarga telah dikorbankan.

Sang veteran seperti ingin berbicara lantang, seperti ingin mengeluarkan beban berat dan batu onak yang tersmpan membeku di sudut nadi darahnya. Bahwa sebetulnya ia kecewa dengan keadaan Negara yang seperti ini.

Ia bahkan mungkin sedang berfikir, seandai para anak-anak muda ini, yang sekarang ada depannya ikut berjuang kala melawan penjajah mungkin anak-anak muda dengan mental yang sekarang, mereka hanya berada di bunker menyeringai, merapatkan kedua lutut ke dagu sambil menggigil ketakutan.

Tapi tampak sang kakek, sang veteran ini sadar. Bahwa setiap jaman ada orangnya, setiap orang ada jamannya.

Ia hanya bisa berharap semoga bangsa ini yang sudah mengorbankan jutaan nyawa para pejuang perang, yang di antaranya adalah rekan-rekan si kakek, dapat menjadi bangsa yang besar, bangsa yang maju, bangsa yang mengenal kerukunan dan mengaplikasikannya dengan sebuah penampakan nyata, saling menyayangi sesama orang Indonesia, tak lagi menumpahkan darah saudara dengan tangan saudara lainnya.

Menginjak hari yang semakin siang, kakek itu dan dua rekan vetaran lainnya berdiri, mereka dan ratusan peserta upacara Kemerdekaan RI menyanyikan Lagu Indonesia Raya, kakek itu ingin bernyanyi, ingin sekali menegaskan bahwa dia masih bisa, tapi karena ia cukup tua untuk sebuah semangat, akhirnya sang vetaran perang itu memejamkan mata, mencoba untuk menikmat alunan syair bait-demi-bait lagu kebangsaan.

Akhirnya, sang kakek di antara lamunannya tersentak kala namanya disebut di ujung mikrofon. Ia sedikit tersenyum kala namanya disebut diiringi dengan pemberian terima kasih berupa uang jasa veteran Rp 250 ribu. Ya, dia tersenyum. Kek, cukupkah uang itu? Lalu bagaimana kami harus membalasnya?

Pengirim: Eka Mahendra Putra
Judul Foto: Bagaimana Kami Membalasnya?

Ingin menjadi pemenang juga dan mendapatkan hadiah Rp 500 ribu? Yuk, ikut kontes FotoStop detikINET berikutnya dengan tema Celebration untuk bulan Desember 2012 ini.

(ash/ash)




Hide Ads
LIVE