"You press the button, we do the rest" demikian slogan yang masih lekat di ingatan masyarakat, khususnya pecinta foto. Bagaimana Kodak sendiri menanggapi hal tersebut?
"Memang benar hal ini melibatkan emosi yang besar, namun sebenarnya ini bukanlah keputusan yang besar," ujar Lois Lebegue selaku Managing Director Kodak Asia Pacific Region dalam acara temu media terbatas di Horizon Club Floor, Hotel Shangri La, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kurang sigapnya Kodak mengadopsi teknologi digital dan lambat berlari di jalur kompetisi dengan sesama vendor kamera agaknya menjadikan bisnis ini tidak menguntungkan lagi bagi mereka.
"Keluarnya kami dari bisnis kamera adalah keputusan yang harus dilakukan. Bisnis ini sudah tidak profitable dan kompetitif," tukas pria asal Prancis ini. "Di Asia, pendapatan dari bisnis ini hanya menyumbang 5%," tambahnya.
"Orang-orang sekarang lebih banyak memakai smartphone alih-alih kamera untuk mengambil foto. Harga kamera sendiri sangat bersaing, jadi kami kini fokus on print (cetak) daripada memprodusi kamera lagi," tuturnya lebih lanjut.
Sekarang, perusahaan yang sudah berumur lebih dari seabad ini memang diketahui mengalihkan fokus mereka ke digital printing, dan cetak foto. Dikatakan oleh Lois bahwa bisnis ini mengalami kenaikan pada 2 tahun terakhir.
Ya, meski Eastman Kodak Co. masih eksis berdiri dan menepis berita kebangkrutan, namun untuk bisnis kamera, mereka tinggal kenangan. Sang penemu kamera digital pertama di dunia akhirnya dilahap pesaingnya yang lebih agresif mengadopsi teknologi ini. Ironis.
(sha/ash)