Pengguna internet bisa memantau pergerakan Badai Gustav ini melalui tab 'weather' di Google Earth. Alhasil, pengguna bisa memprediksi kemana Badai Gustav selanjutnya akan singgah.
Meski demikian, Google tetap mengingatkan pengguna untuk tetap mempercayai informasi resmi dari pihak berwajib. Sebab, tampilan satelit pergerakan Badai Gustav di Google Earth mempunyai jeda waktu dari aktivitas aslinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir softpedia yang dikutip detikINET, Selasa (2/9/2008), bagi pengguna yang ingin mendapatkan tampilan yang lebih baik dari aplikasi ini, disarankan untuk mendownload aplikasi KML (Keyhole Markup Language) yang disebutkan tersedia di blog Castello.
Aplikasi ini diklaim mampu memberikan tampilan 3D, image, penanda tempat serta garis bujur dan lintang wilayah yang ingin dianalisa. Sementara untuk melacak fenomena alam, seperti badai misalnya, aplikasi ini diklaim mampu memberikan gambaran seberapa besar sudut kemiringan dan ketinggian dari kerucut serta prediksi rute yang akan dilewati badai tersebut selanjutnya.
Pun begitu, sekali lagi Google menegaskan bahwa layanan ini hanyalah untuk menarik minat penggunanya, dan bukan untuk dijadikan acuan bagi para peramal cuaca. "Dan jika Anda tinggal di salah satu area yang terkena dampaknya (badai-red.), maka tetaplah dengarkan instruksi dari pihak berwajib setempat," tandas Castello.
Punya cerita menarik seputar dunia IT? Berbagi di detikINET Forum.
(ash/fyk)