Dia adalah Dimaz Pramudya, mahasiswa Computer Science & Software Engineering di Swinburne University, Melbourne, Australia.
'Keunikan' ini mulai disadari detikINET ketika melihat keempat nama anggota tim SOAK yang beranggotakan David Burela, Dimaz Pramudya, Ed Hooper dan Long Zheng. Dilihat dari nama-nama tersebut, ada satu nama yang jika dilihat sepintas seakan tak asing dipakai di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya baca pemenang Imagine Cup di www.detikinet.com =). Dannnnn......juara satu itu dari Australia dgn TEAM SOAK dari 4 orang peserta itu, ada 1 dari Indonesia...namanya Dimaz Pramudya =). Saya adalah teman dari dia hehehehee...," tulis Rebecca dalam e-mailnya.
Di account facebooknya pun Dimaz terlihat fasih menuliskan kalimat berbahasa Indonesia. Hal ini terlihat ketika dia memberikan komentar terhadap suatu foto. Beberapa temannya juga tak jarang mengirim pesan kepada remaja ini dalam bahasa Indonesia.
Jika Dimaz memang benar asli orang Indonesia, hal ini tentunya sangat membanggakan. Sebab, di tengah berbagai pandangan negatif terhadap Indonesia, kita masih mempunyai putra tanah air yang berprestasi di kompetisi tingkat dunia.
Namun, di sisi lain, prestasi yang diraih Dimaz bisa membuat miris karena yang diusung justru nama negara lain. Hal semacam ini kerap terjadi di industri TI di mana banyak bakat asal Indonesia yang 'hijrah' ke luar negeri.
Foto: Dimaz Pramudya dan tim Soak dari Australia. Diambil dari profile Facebook Edward Hooper.
Mau berbagi dan bertukar informasi software unik? Gabung saja di detikINET Forum.
(ash/wsh)