Hal itu dikemukakan Duta Open Source Indonesia Betty Alisjahbana di sela-sela penandatangan akta pendirian Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) di Gedung Depkominfo Jakarta, Senin petang (30/6/208).
Selama kurang lebih sebulan menjabat sebagai Duta Open Source, Betty mengaku mengalami kesulitan ketika tengah melakukan kegiatan promosi Open Source ke masyarakat. Sulitnya mengubah kebiasaan masyarakat yang kadung dijejali produk proprietary ketika baru belajar komputer disebut-sebut menjadi tantangan utama menyebarluaskan Open Source di masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, menurut mantan presiden direktur IBM Indonesia ini, kurikulum pendidikan menjadi critical success factor dalam mempromosikan, menyebarluaskan serta mengembangkan Open Source. "Saya maunya proprietary diganti semua dengan Open Source di sekolah. Tapi fifty-fifty juga tidak ada masalah," tegasnya.
Untuk menjalankan niatan tersebut, lanjut Betty, dalam waktu dekat bakal ada focus group discussion yang dihadiri pihak Depkominfo, Ristek, Depdiknas, komunitas Open Source dan pihak terkait lainnya untuk duduk bersama dan mencari tahu apa sebenarnya yang harus dilakukan untuk mengembangkan Open Source di Indonesia.
Mau ngobrol dan berbagi software? Masuk saja di detikNET Forum.
(ash/wsh)