Sistem ini dikembangkan oleh para ahli dari Perancis dengan menggunakan peralatan dari Amerika Serikat. "Teknologi ini akan meringankan tugas ahli bius sehingga mereka dapat memfokuskan diri dalam memonitor kondisi pasien," ujar Professor Marc Fischler, kepala ahli bius dari Foch Hospital Suresnes, yang mengembangkan sistem bius otomatis ini bersama dua spesialis lain.
Tugas ahli bius sendiri meliputi pemberian obat bius dan pembunuh rasa sakit serta mengamati perkembangan kondisi pasien selama operasi. Dengan demikian, dengan diberdayakannya robot ini tugas ahli bius pun dapat lebih fokus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah elektroda yang dipasang di kening pasien akan memonitor tingkat mati rasa dengan rentang angka 0-100 berdasarkan indeks bispectral (sebuah alat monitoring neurophysiological yang secara terus menerus menganalisa kondisi kepala pasien selama pembiusan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien)
Indeks bispectral (BIS) dapat mengukur kondisi otak pasien dan sinyal rasa sakit yang dialami pasien. Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam komputer untuk mengontrol pemberian morfin dan obat hipnotis, tentu saja dengan pengawasan dari ahli bius.
"Kami telah mengembangkan sistim ini dalam kurun waktu empat tahun," ujar Fischler, seperti dikutip detikINET dari AFP, Senin (14/4/2008).
Lebih lanjut, Fischler mengatakan, memang dalam jangka pendek alat ini masih dalam tahap penelitian, tapi diharapkan dalam jangka panjang teknologi ini akan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. "Dengan alat ini, kita dapat menangani pasien bagaimanapun kondisinya, bahkan untuk operasi yang memakan waktu lama hingga 14 jam," tandasnya.
Gemar mengikuti perkembangan dunia TI? Yuk, gabung di detikINET Forum
(faw/wsh)