"Saya tidak tahu persis siapa yang mengirimkan teror tersebut. Namun, ditilik dari suaranya, si peneror memiliki aksen China," ungkap Matt Whitticase, dari Free Tibet Campaign yang berbasis di London.
Seperti dilansir AFP dan dikutip detikINET, Kamis (20/3/2008), Whitticase mengaku menerima teror lewat telepon setiap dua menit sekali pada pukul 04.00-07.00, baik di nomor pribadinya maupun di nomor telepon kantor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga diungkapkan Lhadon Tethong, director of Students for a Free Tibet, kantornya di New York mendapat teror serupa dari orang beraksen China. Tak hanya itu, ia mengaku juga mendapat kiriman serbuan e-mail berisi virus.
"E-mail tersebut seolah-olah berasal dari orang dalam Tibet yang sedang putus asa, memohon kepada kami untuk membuka gambar yang dikirim," ujar Tethong.
Banyak lagi kelompok Pro-Tibet lainnya yang menjadi sasaran serangan virus via e-mail ini. Akibatnya, account e-mail yang biasa mereka gunakan menjadi error dan tak bisa digunakan.
Pemerintah Komunis China memang membatasi akses media dan aktivis terhadap hampir semua aksi protes yang terjadi di negara Tirai Bambu ini. Youtube pun pernah 'disumpal' oleh Pemerintah Komunis China lantaran menampilkan aksi protes yang tengah bergejolak di Tibet. (ash/ash)