Namun anehnya, si penebar teror yang mengaku sebagai pembunuh bayaran ini ternyata bisa diajak 'kompromi'. Yakni dengan memberikan tawaran kepada calon korban bahwa mereka tidak akan dibunuh jika mereka bersedia memberikan sejumlah uang yang diminta.
"Saya disewa oleh salah seorang teman Anda untuk membunuh Anda. Saya sedang mengawasi Anda. Namun, saya tidak percaya dengan apa yang dikatakan teman Anda tentang Anda. Saya tidak akan membunuh Anda, asalkan Anda membayar sejumlah uang yang saya minta," demikian isi e-mail teror tersebut, seperti dikutip detikINET dari Washingtonpost, Kamis (28/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak kepolisian mensinyalir bahwa tidak ada pola dan keterkaitan antara satu penerima e-mail dengan penerima lainnya. "E-mail ini merupakan salah satu bentuk penipuan untuk mengorek data pribadi calon korban. Misalnya, untuk mengetahui rekening bank seseorang," ujar Bill Kennedy, dari kepolisian Stafford.
Kepolisian setempat pun menghimbau para penerima e-mail teror untuk tidak membalas (reply) e-mail tersebut, namun cukup melaporkannya saja ke pihak berwajib. (ash/ash)