Hal itu berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Intelligence Advanced Research Projects Activity (IARPA), bagian dari komunitas intelejen Amerika Serikat yang mengamati perkembangan teknologi.
"Di Second Life, orang dapat saling bertemu dan bertukar informasi. Rupanya, hal ini dimanfaatkan oleh kelompok ekstrim untuk melakukan rekrutmen, pelatihan, transfer uang dan bertukar informasi tentang perang," ujar lembaga tersebut, seperti dikutip detikINET dari ITnews, Senin (11/2/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aksi pemanfaatan perkembangan teknologi dan internet oleh kelompok militan diduga pernah beberapa kali terjadi. Sebelumnya, kelompok sejenis dilaporkan menggunakan Facebook, Google Earth serta game yang telah dimodifikasi untuk menjalankan aksinya.
(ash/ash)