Bos pembuat chip ternama dunia Nvidia, Jensen Huang, tak percaya kecerdasan buatan (AI) akan memusnahkan kehidupan manusia. Baginya, kemungkinannya bahkan 0% -- setidaknya sampai 2030.
Dia mengatakan AI tidak akan berkembang ke titik di mana ia mampu menyebabkan kepunahan manusia. Huang menyebut narasi '2030' akan terjadi kiamat akibat AI adalah hal yang tidak bertanggung jawab.
Jensen Huang menyinggung pernyataan di media sosial oleh mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon. Coxon berkata bahwa AI bisa menjadi 'melampaui kemampuan manusia' (superhuman) dan memusnahkan umat manusia dalam kurun waktu satu dekade.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2030 bukanlah akhir dunia. Peluang terjadinya akhir dunia pada saat itu adalah 0%," ujar Huang dalam sebuah wawancara dengan CBS News.
"Menakut-nakuti orang itu tidak perlu. Hal itu tidak bertanggung jawab," imbuhnya.
Melansir The Guardian, Senin (22/9/2026), Huang mengatakan prediksi mengenai peristiwa kepunahan akibat AI tidak memiliki dasar ilmiah. Huang juga berpendapat seruan perusahaan-perusahaan AI baru-baru ini untuk pemberlakuan regulasi keselamatan tingkat nasional dan internasional bertujuan untuk menghindari hukum yang sudah ada yang dapat meminta pertanggungjawaban mereka.
Merujuk pada kasus-kasus terkini di mana perusahaan AI (termasuk Anthropic dan OpenAI) memicu insiden keamanan siber selama tahap pengujian, ia menyatakan bahwa sudah banyak hukum yang tersedia untuk menangani masalah-masalah tersebut.
"Ada hukum mengenai akses ilegal keamanan siber, ada ketentuan tanggung jawab atas kerusakan... jika produk Anda menimbulkan kerugian, jika produk Anda tidak bekerja sesuai janji, dan jika Anda terikat kontrak dengan perusahaan terkait perjanjian tingkat layanan (service level agreements), sudah banyak hukum yang mengatur hal itu. Intinya, terapkanlah hukum-hukum tersebut terlebih dahulu. Jangan biarkan narasi kiamat ini membuat mereka dibebaskan dari hukum yang berlaku saat ini," katanya.
Huang mengajak orang-orang untuk memperhatikan makna tersiratnya. Dia menyebut mereka sebenarnya tidak meminta aturan hukum tambahan, justru meminta agar dibebaskan dari aturan hukum yang sudah ada. Itulah masalahnya, menurut Huang.
Elon Musk Minta Perkembangan AI Diperlambat
Pernyataan Coxon, yang didukung oleh dua peneliti lain di perusahaan pengembang sistem AI Claude, memicu perdebatan internasional mengenai bahaya dan minimnya pengawasan terhadap AI di tengah perlombaan antarperusahaan untuk mengembangkan model-model AI yang semakin canggih.
Para pembuat kebijakan di AS telah mengkritik perusahaan-perusahaan AI terkait berbagai risiko yang ada. Sementara Anthropic, menerbitkan laporan intelijen ancaman yang merinci bagaimana pihak kriminal, kelompok yang didukung negara, penyedia perangkat lunak pengintai (spyware), ilmuwan, serta penyebar propaganda berupaya memanfaatkan model AI mereka yang canggih untuk merancang rudal dan bom, menciptakan patogen mematikan, hingga memata-matai kelompok oposisi.
Dario Amodei (CEO Anthropic), Sam Altman (pimpinan OpenAI, perusahaan pembuat ChatGPT), dan Elon Musk telah menyerukan agar pengembangan teknologi ini diperlambat.
Kendati demikian, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kekhawatiran mengenai pengembangan AI. Trump menyebutnya sebagai 'hoaks' dan 'konspirasi', seraya menambahkan bahwa perlambatan pengembangan dapat memberikan keunggulan bagi China.
Kabat terbaru, Scott Bessent Menteri Keuangan AS menyatakan bahwa AS dan China telah sepakat untuk membentuk mekanisme dialog AI guna saling memberi peringatan dan membantu memitigasi potensi bahaya teknologi AI.

