Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Dunia Takut AI Lepas Kendali, Tombol Pembunuh Mulai Dibahas

Dunia Takut AI Lepas Kendali, Tombol Pembunuh Mulai Dibahas


Fino Yurio Kristo - detikInet

FORT LAUDERDALE, FL - MARCH 07:  Lt. Mike Baute from Floridas Child Predator CyberCrime Unit talks with people on instant messenger during the unveiling of a new CyberCrimes office March 7, 2008 in Fort Lauderdale, Florida. One of the people on the other side of the chat told Lt. Baute, who is saying he is a 14-year-old girl, that he is a 31-year-old male and sent him a photograph of himself. According to current statistics, more than 77 million children regularly use the Internet. The Federal Internet Crimes Against Children Task Force says Florida ranks fourth in the nation in volume of child pornography. Nationally, one in seven children between the ages of 10 and 17 have been solicited online by a sexual predator.  (Photo by Joe Raedle/Getty Images)
Foto: Gettyimages
Jakarta -

Apakah kecerdasan buatan (AI) akan membunuh kita semua? Pertanyaan ini diperbincangkan beberapa hari terakhir seiring memuncaknya ketakutan terhadap AI. Mantan peneliti OpenAI dan Anthropic pekan lalu mengguncang dunia melalui peringatan AI dapat menghancurkan manusia dalam waktu relatif dekat.

Dikutip detikINET dari CNBC, para tokoh terbelah pandangannya dan belum sepakat langkah apa yang harus diambil ke depannya.

Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, mendukung seruan CEO Anthropic, Dario Amodei, untuk mengendalikan pengembangan model-model AI paling mutakhir. Pesaing Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, turut mendukung upaya tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden Donald Trump menyebut ketakutan tersebut hoax, sementara Jensen Huang, CEO Nvidia, mengatakan "Kita tidak membutuhkan regulasi baru."

Khawatir AI lepas kendali, pembuat kebijakan di Washington menyuarakan perlunya 'tombol berhenti ajaib' AI, yang juga dikenal sebagai kill switch, tombol pembunuh atau pemutus darurat.

ADVERTISEMENT

RUU 'Kill Switch' di DPR AS diperkenalkan setelah OpenAI mengungkap sekelompok agen AI-nya meretas platform Hugging Face. RUU itu memberi wewenang ke Departemen Keamanan Dalam Negeri untuk memaksa laboratorium memperlambat atau mematikan model AI.

Namun usulan kill switch ditolak Senat pekan ini. Konsep ini terdengar seperti solusi jitu, namun menerapkannya tak semudah itu.

Mimpi buruk logistik dan kontrol

Kill switch digunakan di pabrik untuk mematikan paksa mesin saat terjadi kesalahan. Namun dalam dunia digital yang saling terhubung, hal tersebut adalah mimpi buruk.

Beberapa tahun terakhir, raksasa seperti Meta, Alphabet, dan Amazon menggelontorkan miliaran dolar ke data center yang tersebar di seluruh dunia dengan ribuan mesin, chip, server, dan sistem cadangan.

Menurut Mark Nitzberg dari University of California, Berkeley, itu membuat penerapan kill switch sangat menantang. "Kill switch harus bisa mematikan sistem utama sekaligus sistem cadangannya," cetusnya.

Mematikan paksa AI juga dapat mengganggu infrastruktur vital yang bergantung padanya, yang bisa menyebabkan jaringan listrik atau sistem keuangan rentan terhadap insiden siber.

Karena sistem AI begitu kompleks, perusahaan juga harus membuat berbagai kill switch berbeda untuk tugas yang berbeda-beda. Tim Brown, mantan Kepala Keamanan SolarWinds menyebut hal ini membutuhkan koordinasi lintas pembuat model. "Ada ribuan entitas harus dimatikan," ujarnya.

Masalah logistik baru sekadar puncak gunung es. Salah satu masalah lebih besar adalah ketidakpastian perilaku AI. Seperti insiden peretasan Hugging Face, agen AI dapat menyiasati kontrol dan bertindak ekstrem untuk mencapai tujuan.

"Anda harus bertindak sangat presisi saat menggunakan kill switch. Jika dampaknya terlalu luas atau berlebihan, Anda malah akan mematikan seluruh operasi bisnis," kata Ed Jennings, CEO perusahaan keamanan Darktrace.

Beberapa peneliti berpendapat kill switch merupakan tidak cocok untuk meregulasi AI. Dylan Baker dari Distributed AI Research Institute menyarankan pembuat kebijakan seharusnya memprioritaskan batasan pengaman yang meniru regulasi industri berbahaya seperti tembakau.

Meski begitu, pakar belum menutup kemungkinan rem darurat AI asalkan dilengkapi sistem yang tepat. Itu berarti mengintegrasikan kill switch ke sistem sejak awal pembuatan serta membakukan protokol pemutusan darurat di semua perusahaan.



(fyk/rns)




Hide Ads